Boleh panggil Ayah…….?? May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.trackback
“Ayah …. minggu besok aku ulang tahun lho, aku ingin ajak teman-temanku merayakannya di sekolah, seperti yang kemarin dilakukan oleh Yanti” ujar putriku. “Ramai deh … ada sulap ada penyani ciliknya dan masing-masing diberi tas ransel yang ada diisi kue dan makan kecil yang lainnya”. Aku memandang wajah putri kecilku, membayangkan keinginannya yang demikian kuat.
“Cantik….” Kataku lembut sambil mendekapnya perlahan-lahan. “kamu ingin ulang tahun dirayakan di sekolah memangnya kenapa, kenapa tidak dirumah aja seperti biasa”
“Iya… aku ingin juga dirayakan di sekolah bersama teman-teman terus kasih hadiah ke teman-teman, aku malu ayah kalau ngak dirayain di sekolah” ujarnya.
“Malu, ? dengan siapa ? dan kenapa harus malu” tanyaku lebih dalam lagi sambil memeluknya lebih erat lagi. “Malu sama teman-teman yang lain terutama sama yanti, yah, masak dia bisa merayakan ulang tahun di sekolah, aku enggak bisa”.
“Gimana kalau ulang tahunnya, kita rayakan bersama anak-anak yatim, seperti yang diajarkan oleh bapak ustadz” kataku merayu.
”Iya deh pa, tapi aku boleh ya ajak teman-temanku juga hadir ya” jawab soraya sambil bergelayut di kedua tanganku.
”Boleh… papa senang kok, ajak juga teman-teman yang lain, agar ramai”kata istriku.
Suasana ulang tahun Soraya anakku di Panti asuhan Raudathul Jannah benar benar meriah, semua tertawa gembira menyaksikan badut-badut yang memang sengaja diundang untuk meramaikan ulang tahun anakku yang hari itu merayakan ulang tahunnya yang keempat.
Tembok dan bangunan gedung panti asuhan itu belum banyak yang berubah, bahkan kini cat putih yang biasa menyelimuti gedung itu kini semakin bersih. Pohon mangga yang biasa kami jadikan tempat berteduh, sedang berbuah lebat sekali. Wajah ustadz Ahmad pemilik panti, yang bersih kini semakin terlihat bersinar walau rambutnya mulai ditumbuhi rambut putih menyeluruh di rambutnya.
Ingatanku menerawang menembus kuat sekali pada kembali pada masa-masa ketika aku di rumah yatim piatu ini 25 tahun yang lalu.Aku teringat kecerian dan kegembiraan bersama teman-teman ketika mendengar akan ada orang kaya yang ingin berulang tahun di panti asuhan dimana aku tinggal, karena itu berarti kami bisa makan enak, bisa dapat kado, bisa bernyanyi bersama. Aku tersenyum kecil, malu rasanya mengingat hal itu.
Di panti, dulu aku dikenal sebagai anak nakal, karena selepas mengaji setiap magrib, aku tak langsung belajar, melainkan nonton TV dirumah Anton teman sekolahku yang juga tetangga panti, bahkan seringkali aku harus pulang berjingkat-jingkat agar tak ketahuan Bapak ust. Ahmad, karena jika terlihat aku pulang dari menonton, aku bakal harus menulis berulang-ulang “saya ingin belajar agar bisa sukses” hingga seratus kali dan besoknya selepas subuh masih harus menimba air bak mandi. Aku tahu Abah Ahmad demikian sekarang anak-anak santri menyebutnya tak menyangka aku hadir lagi disini bahkan dengan keluargaku. Ia telah menyaksikan aku sukses. Ini pasti juga karena do’a do’a yang ia panjatkan setiap kami selesai sholat lima waktu.
“Ayah…., kapan lilinnya ditiup, aku sudah tidak sabar lagi nich” ujar soraya mengejutkan aku, sambil bergelayut manja, di bahu tanganku. Tangannya yang mungil itu mulai mengelus-elus janggut tipisku.
“Oh ya, sekarang aja kita mulai” ujarku sambil mengajak ustadz Ahmad mendekat. “kita akan mulai acara ini dengan sama-sama membaca basmalah” kataku lagi. Aku aku jelaskan kehadiranku di yayasan yatim piatu ini, sementara soraya sudah mulai mendekati kue tar, ia ingin segera mungkin meniup lilin. “selanjutnya adalah do’a untuk soraya, yang akan dipimpin oleh ustadz Ahmad”
“Anak-anaku sekalian, bergembiralah, hari ini ada saudara kita yang berulang tahun, soraya putri pak Budi ini berulang tahun dan memilih tempat di rumah kita. Mengapa demikian, karena beliau dahulu juga seperti kalian, pernah tinggal di rumah ini, ia ingin kembali mengenang masa-masa dulu. Dan alhamdulilah kini beliau telah sukses hidupnya bahkan kini ia bekerja pada sebuah bank asing terkenal di Indonesia” tutur pak ahmad perlahan, suaranya makin lama makin mengecil.
“Mari kita do’akan juga semoga soraya menjadi anak yang berbakti pada orangtuanya, menjadi anak yang solehah, dan sesukses ayah dan ibunya, amin. Anak-anakku, kalian bisa seperti pak budi jika kalian belajar dengan tekun dan bekerja dengan cerdas, bukan demikian nak budi” katanya sambil menoleh kearahku. Aku tak menyangka bakal ada pertanyaan seperti itu hanya dapat mengangguk perlahan. Semua mata memandang kearahku. Akhirnya acara berdoapun selesai. Soraya menyegarakan meniup lilin sementara istriku menyiapkan makanan dan membagi-bagikan kado dibantu badut-badut dari perusahaan restoran terkenal tempat ia bekerja. Semua nampak bergembira.
Namun di sudut lain dekat pintu masuk ruangan pertemuan itu, aku melihat tatapan kosong dari pancaran mata anak kecil yang sedari tadi terdiam. Ia tampak tak segembira rekan-rekan lainnya, kalaupun bertepuk tangan seperti tak semangat. Seperti tak punya api kehidupan, bahkan Tiba-tiba, terlihat olehku, mata anak kecil itu semakin meleleh, kian deras.
Perlahan aku bergeser mendekatinya, kusaksikan bulir-bulir air bening mulai menetes di sela-sela pelupuk mata. “Nama Kamu siapa dan kenapa menangis? “tanyaku. Ia terdiam. Menatapku dalam-dalam. Kepalanya tertunduk, lalu berkata “Saya Ita om… boleh nggak aku minta sesuatu” katanya perlahan
””Boleh…. Ita minta apa sayang” katanya perlahan
”Tapi om nggak marah dan mau memenuhi permintaan Ita” tanyanya lagi.
”Ngak… om ngak akan marah, memang Ita minta apa sih, Ita mau tas sekolah ya” tanyaku lagi
”Om benar ngak akan marah” tanyanya lagi sambil menatap wajahku
”tidak…. om tidak akan marah, om mau dengar kamu mau minta apa sih” kataku lagi.
”Om…. Ita mau panggil om ayah, Ita ingin punya ayah” katanya perlahan.”Ita ingin seperti soraya yang juga punya Bapak, punya Ibu, yang mau menemani ita kalau ambil raport seperti teman-teman ita yang lain” lanjutnya lagi.
“lho ita khan sudah punya ustadz ahmad di rumah ini”. Ia mengeleng-gelangkan kepala…. “maksud ita bukan itu om. Ita ingin punya Bapak” ujarnya perlahan nyaris tak terdengar.
“Om ….. boleh khan kalau ita panggil bapak” katanya sambil menatap mataku. Seperti tersengat listrik mendengar ungkapan itu. Aku tak menyangka sama sekali bahwa ia akan meminta itu kepadaku. Tatapan matanya meminta persetujuanku. Aku tak kuasa berdiri, seluruh persendian itu tiba-tiba terasa lepas, aku langsung bersujud, kupeluk anak kecil itu, sementara Soraya anakku menyaksikan semua. Dekapan itu begitu erat seperti tak ingin terlepas sebentar sekalipun. Jari-jari yang mungil semakin keras mencengkram pundakku. Aku jadi teringat cengkaraman anakku kalau ia marah jika tak jadi kubelikan kue kesayangannya. Ach….. sekeras apapun cengkaraman itu tak terasa sakit sama sekali, bahkan yang kurasakan adalah kehangatan.
Isak tangis itupun perlaha-lahan berhenti. Ita mulai merenggangkan dekapannya. Akupun perlahan mulai memegang pundaknya. Seraya menatap wajah anak itu. Ita tersenyum, bahagian sekali. Aku pun demikian. Sementara soraya anakku semakin mendekat, lalu aku dekapkan keduanya di dadaku dalam-dalam. Semua menangis haru.
