jump to navigation

Bubur Ayam Kurnia May 31, 2008

Posted by demasproduction in Uncategorized.
trackback

Bubur yang mulai panas itu akhirnya benar-benar membuatnya panas, hari ini kali pertama dia berjualan bubur. Panas karena sejak pagi-pagi menjelang subuh ia telah mempersiapkan bubur, hingga menjelang siang hari hanya 5 mangkok bubur dapat dijual. Yach…mungkin ini rezekinya hari ini, tak usah disesali, kilahnya. Tapi untuk apa sisa bubur sebanyak ini. Sekembalinya kerumah, ia serahkan sisa buburnya untuk dibagikan kepada tetangganya. Demikian seterusnya. Sisa bubur yang tak laku, selalu ia bagikan kepada tetangganya, sampai akhirnya sekarang, jualan tak lagi ada sisa, sellau habis terjual.

Cerita ini disampaikan kurnia, demikian kami menyebutnya dalam sebuah acara seminar yang diselengarakan oleh Dompet Dhuafa Kaltim. Sejenak tentang Kurnia Sutanto (40) yang berkelahiran di Bandung dan beretnis China. Sebagai pimpinan sebuah Bank swasta tentunya menjadi prestise tersendiri apalagi fasilitas sangat menunjang untuk itu, namun tidak bagi Kurnia, setelah jabatan itu ditinggalkan dan berbagai fasilitas ditanggalkan apa yang dapat membuat orang berdecak kini tak dirasakannya, tak dipungkiri yang tadinya membuat orang selalu merunduk dan manggut-manggut sekaranglah waktunya untuk dapat menilai orang dengan sebenarnya nilai yang harus diberikan.

Dikala jabatan disandang, orang berdatangan. Dikala fasilitas terhampar orang-orangpun membuka tangan dengan lebar. Baru sampai tangga saja sudah disapa dan jabatan tangan yang erat sekali seolah tak mau lepas ”selamat siang Pak…Bagaimana Khabar hari ini”. Namun ketika orang yang sama bertemu muka dan melihat Kurnia yang sedang ’on duty’ di mobil pick- up bertopi dengan spanduk membentang disisi-sisi mobilnya dan menjual bubur…jangankan berjabat tangan erat…melihatpun mereka tak mau dan malah membuang muka.

Namun waktu menorehkan sejarah lain baginya. Dia harus berhenti sebagai penentu kebijakan Cabang Bank swasta tersebut dan harus menuai realitas. Akhirnya jiwa dagang yang dimilikinya harus ’dikeluarkan’ untuk menyambung hidup dan keinginannya. Mulailah aksinya dipinggir jalan, berteman dengan preman dan tukang parkir. Dia mulai menelisik apa yang dapat menjadikan usaha yang berkah baik bagi dirinya dan keluarga maupun bagi orang lain. Akhirnya dengan keahlian masak istrinya dia membuka warung yang menjual makanan dan dia namai ”Bubur ayam Bandung ’Kartika’”, nama itu dia ambil dari makanan daerah asalnya sekaligus nama anaknya, Kartika. Warungnya dapat dijumpai di Balikpapan di daerah dekat pasar Klandasan dan Tenda di Pasar Baru. Ada pula yang di daerah Samarinda yang dikelola oleh adiknya.

Suatu saat Kurnia diundang untuk memberikan testimoni di acara yang diselenggarakan Dompet Dhuafa Kaltim ”seminar Spiritual & Financial Healing”. Di acara tersebut dia memaparkan kiat berbisnis yaitu berdagang bubur ayam, walaupun dia beragama non-muslim tapi dalam kehidupan sehari-hari telah menerapkan kaidah Islam, baik dalam berkeluarga maupun bekerja dan berdagang bahkan karyawannya hampir semua muslim artinya dia sangat menghormati pembeli yang sebagian besar muslim. Mulai dari cara mendapatkan bahan masakan sampai cara pengolahannya dilakukan oleh karyawannya dengan cara-cara muslim bahkan sekarang baru tahap proses untuk memperoleh sertifikasi halal dari MUI untuk masakannya.

Tausiah Ustadz Yusuf Mansur dalam seminar tersebut menggugah hatinya untuk semakin memantapkan kenyakinannya bahwa ia harus berbuat sesuatu untuk sesama, dia sadar bahwa dia bukan muslim namun untuk berbuat baik tidak ada pagar yang membatasi, untuk menolong sesama tidak perduli dari golongan apa, dari agama mana, dari suku apa. Itulah prinsip yang dijalaninya. Bahwa berkah akan selalu ada dan keyakinan itu membuat dia tetap bersemangat menolong sesama dan positif thinking membuat dia selalu bersih hati serta terhindar dari segala yang menghalangi untuk menjatuhkan usahanya.

Jalan untuk mewujudkan demi menolong sesama salah satunya dia lakukan adalah dengan mengajak kerjasama Dompet Dhuafa Kaltim dalam program ’Sedekah Keberkahan’ yaitu setiap porsi yang terjual disumbangkan melalui Dompet Dhuafa kaltim sebesar Rp. 150,-. Database donatur Dompet Dhuafa Kaltim mencatat perolehan pertama dari program tersebut diluar yang dibayangkan jumlahnya hampir satu juta, itu artinya porsi yang telah terjual jauh lebih banyak dibandingkan sebelum ia berniat bersedekah. Subhanallah….bukan bermaksud gambling…namun kepercayaan akan berkah sedekah telah dimilikinya, bahwa rezeki ada yang ngatur itu benar, keyakinannya bahwa kalau kita memberi maka Allah akan melipat gandakan balasannya telah diperoleh buktinya.

Kini, Kurnia Sutanto bukan hanya pedagang namun juga telah dipercaya kembali memimpin sebuah Bank swasta di Balikpapan bahkan diluar yang dibayangkan, gedung Bank yang megah dan fasilitas yang didapat melebihi dari Bank yang ia pimpin sebelumnya. Walau demikian, jiwa yang matang dan pikiran serta hati yang bersih membuat semakin memburai cahaya dari dalam yang tampak dari muka dan bibirnya yang selalu dihiasi dengan senyum menatap masa depan gemilang.

Comments

1. infogue - June 4, 2008

Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com


Sorry comments are closed for this entry