jump to navigation

Ibu, maafkan anakmu May 31, 2008

Posted by demasproduction in Uncategorized.
trackback

Vonis bahwa istriku harus berobat dengan biaya obat-obatan yang sangat mahal tentu sangat memberatkan aku, sudah beberapa hari ini istriku terbaring lemah di rumah sakit, tanpa tahu sebab apa penyakitnya. Sampai suatu saat aku dipanggil dokter dan diminta menandatangani surat ijin untuk setuju atas biaya obat yang cukup mahal buatku.

Aku tak segera menandatangani surat itu, aku minta ijin dokter untuk shalat terlebih dahulu, agar dapat diberikan pentunjuk oleh Allah.

Dalam doa yang aku lantynkan, tiba tiba terlintas, wajah ibuku, aku terus menerus teringat dan pada saat aku mencuri uang ibuku, sebesar 120 rupiah, uang yang pada masa itu sangat berarti. Uang tersebut sebenarnya aku gunakna untuk membayar spp yang sudah menunggak selama 3 bulan, tapi aku ingat ibuku waktu itu marah besar, karena uang tersebut akan ia gunakan untuk membayar hutang. Ia bahkan sempat mengutuk bahwa yang mencuri uangnya semoga mengamalmi musibah terus menerus.

Akupun ingat itu, selepas berdoa aku segera menelpon ibu” Ibu, ini aku bu, Jamil putra Ibu”
”Ia mil, ono opo” terdengar ibuku perlahan, ”Anu mak….aku mau minta maaf”
”Maaf apa mil… kamu salah apa, istrimu gimana kabarnya?
”Ya itulah mak, sebabnya ku ini telpon, aku mau minta maaf, Mamak inget waktu mamak kehilangan uang 120 rupiah itu” kataku malu-malu
”Iya …. aku tak kan lupa, aku marah besar, aku mangkel karo sing jukuk uang aku, aku ora iklahs, pokoke aku mangkel tenan, ben mlebu neroko” kata ibuku dai seberang telepon terdengar sekali kekecawaannya. Lidahku tercekat, aku ragu-ragu untuk mengakui semua yang aku lakukan dahulu.
”Mil….. ono opo, kok malah diam” tanyanya lagi.
”anu mak, aku mau minta maaf, aku minta ampun ama mamak, aku yang sudah gambil uang itu, dahulu, uangnya aku pakai untuk bayar spp, aku malu mak dihina terus oleh teman-teman karena ngak bayaran, aku minta maaf dan ampun sekali lagi mak” kataku lirih sekali, air mataku tak dapat lagi aku bendung, aku menangis sejadi-jadinya. ”Aku minta ampun mak” kataku lagi. ”Mil…., kamu benar yang ambil, ya Allah mil, kenapa kamu lakukan itu mil, Ya Allah aku cabut kutukan itu ya Allah, aku sudah ampuni anakku ini Ya Allah, jangan engkau berikan beban atas dosa yang dia lakukan dahulu YA Allah, aku iklahs, aku ridha dan aku sudah rela” terdengar ibukku pun setenah bedoa kepadaNya.
”Mak, mamak benar mau maafin aku” tanyaku lagi menyakinkan diri
”benar…. mil, mamak sudah maafin kamu” katanya semakin lirih
”Mamak benar-benar iklahs ama yang aku lakukan dahylu”
”benar mil, mamak sdudah iklah dan rela, mamak bangga sama kamu mill mau mengakui dan meminta maaf, walau itu sudah puluhan tahun lalu terjadi, mamak semakin bahagia melihat kamu juga bahagia mil, mamak ngak mau darah daging mamak tersentuh neraka atas doa yang dahulu pernah mamak ucapkan, mamak ridho mil…”
”Ya sudah mak, kalau mamak iklahs dan rido doakan juga istruku mak, ia sekarang masih terbaring sakit, aku mohon doa mamak, semoga ngak ada apa-apa ama dia” pintaku lagi.
”YA aku doakan”

Belum lagi selesai aku melepon, tiba-tiba aku dipangil oleh dokter, ”Bapak, selamt ya, kai tidak jadi memberiakn obat itu, penyakit istri bapak ternyata hanya …….” mudah-mudah pada hari esok ia sudah bisa kembali ke rumah.

Aku bersujud, Allah mengabukan doaku, berkat pengambpunan yang ibu berikan atas salahku dahulu. Ibu Aku mencintai kamu sungguh. Aku menyangi sungguh. Lagu ebit G Ade seolah hadir …… (seperti diceritakan Mas Jamil)