Jangan matikan telpon May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.trackback
Suara takbir itu sahut menyahut, malam itu terasa sekali keberkahan malam akbar bagi seluruh ummat Islam di seluruh dunia. Langit yang hitam terlihat terang benderang oleh ribuan bintang. mengetarkan hati ini, saya baru saja tiba di rumah setelah dari kantor, selepas koordinasi dengan teman-teman konter Ramadhan. Malam itu jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Setelah mandi sebentar saya menyaksikan dulu acara Televisi. Tiba-tiba “bunyi shalawat” dari nada dering handphone saya berbunyi.
“Assalamu’alaikum” kataku perlahan. “ ada yang bisa saya bantu”
“Mas….. saya minta dijemput dana zakat saya”
“Mohon Maaf, pak, dengan siapa ini saya bicara “
“Saya pak Banu mas”
“Oh maaf pak Banu, Pak Banu yang di bekasi”
“ Iya mas, saya minta dijemput zakat saya, tapi kalau bisa malam ini, sebelum jam 12 malam, soalnya saya jam 2 pagi akan berangkat pulang kampung di Yogya”
“Oh iya mas, saya akan jemput, tapi yang jemput nanti mas Odie, bagian penjemputan, insya Allah bapak juga sudah kenal”
“Iya…. Ya, saya kenal, saya tunggu ya mas, Assalamula’alaikum” katanya seraya menutup telpon.
Takut kehilangan waktu, langsung saya mengubungi Odie, bagian yang bertanggungjawab atas penjemputan. Saya kabari permintaan dari pak Banu untuk dijemput dana zakatnya. Untungnya Handphone Odie masih aktif, dia yang baru saja menikah beberapa hari menjelang Ramadhan.
“Mas saya sudah dirumah nih, memangnya ngak bisa dijemput besok selepas lebaran aja mas” katanya meminta ijin untuk menunda.
“Pak Banu mintanya dijemput malam ini juga, karena besok ia akan berlibur bersama keluarga ke kampung halaman, dan sudahlah….. dia kan donatur kita, bukankah tugas kita memberikan layanan terbaik buat para donatur, kamu ajak saja istrimu dan panggilkan taksi agar bisa lebih cepat sampai” kataku menyakinkan dia agar bisa berangkat.
“Mas…Pak Banu khan tadi siang sudah saya ambil zakatnya, sebesar Rp. 40 juta” kata Odie menyakinkan lagi, apakah benar harus ambil zakat lagi di orang yang sama.
“Iya barusan, saya dihubungi pak Banu, katanya kita diminta ambil zakat lagi sebelum jam 12 malam ini”
“Okelah kakau begitu, tapi saya minta ijin untuk ajak istri saya nih, kebetulan dia mau saya ajak, sekalian bulan madu di taksi” katanya sambil bercanda.
Dengan mengunakan taksi akhirnya Odie berangkat menuju Bekasi, seolah memburu waktu, ia meminta supir taksi agar lebih cepat namun tetap dalam kendali. Tepat pukul 12 lewat 5 menit ia tiba di rumah pak banu. Pak banu sudah menunggu di depan pintu gerbang rumahnya. Terlihat kedua anaknya sedang merapikan barang-barangnya di dalam mobilnya.
“Mari masuk” katanya sambil menjabat tangan odie.
“Di teras saja pak, saya dengan istri saya, tapi ia di taksi menunggu”
“Oh…. Iya, kenapa ngak disuruh masuk saja, saya sudah siapkan ketupat sayur masakan istri saya nih, untukl mas odi, ayo ajak istrinya masuk”
“Ngak apa-apa pak, ,dia malu”
“Ayo ajak amsuk, manegapa malu” Odiepun akhirnya mengajak istrinya masuk menemani ngobrol.
“maaf pak Banu, saya tadi siang saya sudah mengambil uang zakat Bapak, bahkan bapak, sendiri yang menyerahkan dananya, lalu mengapa kami harus mengambil zakat lagi pak?”
“Ayo kita sambil makan, bicaranya…, sebentar lagi saya akan berangkat nih.. sebelumnya perut harus kenyang, biar fit dalam perjalanan” ajaknya
“Maaf pak, bapak belum menjawab pertanyaan saya tadi” Tanya odie lagi.
“Iya saya terima kasih Dompe Dhuafa sudah menerima dana zakat saya dan mudah-mudahan zakat saya dapat bermanfaat ya”
“Iya pak, insay Allah akan kami berdayakan melalui progrtam-program yang kami buat” katanya menyakinkan.
“Tadi pagi saya telpon, ke tiga lembaga zakat, untuk mengambil zakat di rumah saya, saya tunggu sampai jam 10 malam ini, hanya 2 lembaga yang datang, dan hanya Dompet Dhuafa yang dating tepat waktu, saya kecewa betul dengan kinerja lembaga ummat ini mas, saya sudah konfirmasi ulang, katanya mau diambil sebentar lagi, tapi sampai jam 11 malam tadi tak juga kunjung dating, ya sudah akhirnya saya menghubungi mas yuli, untung saya simpan kartu namanya”
“terima ksih bapak, atas kepercayaannya, ini ketupatnya enak sekali pak” katanya sambil mengembil ketupat itu.
“Oh iya silahkan,,,, jadi lupa tawarkan, ini uang yang seharusnya saya serahkan ke lembaga amil zakat yang tak jadi dating, jumlahnya 30 juta rupiah, mohon diterima oleh Dompet Dhuafa dan agar dimanfaatkan untuk orang-orang dhuafa” katanya lagi.
Saya terkejut, pagi tadi orang yang sama memberikan uang zakatnya, dan malam ini ia memebrikan lagi hampir sebesar yang ia berikan tadi siang. Saya tentu bersyukur pada Allah, bahwa saya dibei tempat menjadi perantara muzakki membayarkan dan mempercayakan zakatnya kepada lembaga tempat saya bekerja, Saya tak pernah bayangkan bila telpon saya mati atau telpon odie mati, tentu peluang itu hilang dan tentu keempatan dompety dhuafa membuat program yang baik menjadi hilang pula. Karena mameng dari uang para muzakki itulah yang kami himpun sedikit demi sedikit untuk memulihkan kpercayaan ummat, memberdayakan.
Sejak itu, saya melarang teman-teman di penghimpunan, mematikan handphonenya, kecuali bila mereka sedang cuti. Kapanpun dan dimanpun amil-amil dompet dhuafa, seharusnya bisa dighubungi, untuk berbagai keperluan. Bisa jadi ada mustahik yang membutuhkan pertolongan atau ada muzkki yng ingin membayarkan zakat atau mennaykaan nomor rekening karn a ia ingin manttarasfer sejumlah dana.
