jump to navigation

Kalkulator May 31, 2008

Posted by demasproduction in Uncategorized.
trackback

Kemarin, aku mendengar Rika, anak tetangga dibelakang rumah merengek minta dibelikan kalkulator pada mamaknya. Ia yang sekolah pada jurusan IPA sangat memerlukan kalkulator itu untuk melengkapi keperluan sekolah katanya. Sejak duduk di bangku kelas 1 SMU negeri belum pernah ia memiliki barang tersebut. Ia malu karena karena selalu meminjam ke teman-temannya untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau tugas-tugas lainnya.

Bagi banyak orang, kalkulator bukanlah barang mahal, namun bagi mamaknya yang bekerja sebagai pedagang es mambo di sebuah kantin sekolah dasar, kalkulator adalah barang mewah sehingga penghasilannya diigunakan untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Tanpa kalkulatorpun mereka sudah seringkali menghitung-hitung penghasilannya yang tak seberapa itu untuk dibagi-bagi memenuhi kebutuhan utamanya.

Pagi ini, selepas subuh lagi lagi aku mendengar permohonan itu dismapaikan lagi, sembari membuat es, Rika yang sudah sangat hati-hati menyampaikan keinginannya untuk dibelikan kalkulator.

”Ibu, kapan aku dapatkan uangnya, saya ingin segera bisa beli kalkulatir, teman aku ada yang mau jual kalkulatir bekas pun ngak apa apa”

“ Buat makan aja susah Ka apalagi buat beli kalkulator “. Jawab ibunya tegas sekali. Rika akhirnya hanya bisa mengubur dalam-dalam keinginannya itu. Air mata bening menetes dibalik pelupuk matanya. Ia tentu tak ingin memberatkan mamak dan bapaknya. Ia tahu betul sulitnya mamak dan bapak berjualan es. Dibayangkan uang Rp. 25.000,- terasa sangat berat bagi mamaknya. Ia harus menabung untuk mendapatkan kalkulator itu, bahkan untuk kalkulator bekas sekalipun, tapi bagaimana cara menabung bila uang dari mamak dan bapak hanya cukup untuk naik angkot.

Aku yang kebetulan mendengar percakapan mereka berjanji dalam hati akan memberikan kalkulator yang aku miliki. Kebetulan keinginanku untuk mengganti kalkulator yang baru, sementara yang lama kuniatkan akan keberikan pada Rika. Sebenarnya ada bisikan untuk segera saja diberikan kalkulator itu apalagi siang ini tidak ada kegiatan yang mengharuskan aku menggunakan kalkulator namun akupun mendengar bisikan lain agar nanti sajalah kalkulatornya diberikan, kali-kali aja di kantor nanti ada pekerjaan yang membutuhkan alat hitung itu, sampai akhirnya kesibukan menyelesaikan pekerjaan hari itu membuat aku lupa untuk memberikan kalkulator itu. Kalkulator masih terlihat tergeletak di atas meja kamar.

Sementara aku sibuk menyelesaikan pekerjaan kantor di meja kerjaku di rumah, tiba-tiba si bungsu putriku meraih kalkulator yang ada di atas meja .
“ Bu aku pinjam ya” pintanya
“Ya sayang “, kujawab agar ia tak menggangguku. Tut … tut …. Terdengar anakku asyik memainkannya lalu ia bertanya “ Bu…ini kok susah”, tak tahu aku apa maksudnya kujawab saja
“Ibu sibuk nak “ jawabku sekenanya.
Tiba-tiba prang…..! kalkulator pecah berserakan dilempar, si bungsuku rupanya marah karena aku tak menggubrisnya saat ia butuh bantuanku. Tombol angka pada kalkulator bertaburan di lantai. Kalkulatorku pecah berantakan, Aku kumpulkan satu persatu, dengan harapan masih bisa aku perbaiki, aku masih berharap bisa aku betulkan. Aku tank ingin kalkulatr ini benar-benar rusak. Tapi melihat bentuknya aku yakin betul bahwa kalkulatir itu tak lagi dapat dipergunakan. Aku tertegun dan berkata dalam hati “ Ah… seandainya aku berikan sejak tadi pada Rika mungkin kalkulator ini tak pecah “, penyesalan yang dalam menyelimuti perasaanku. Rupanya Allah menegurku karena selalu menunda kebaikan. Kalkulator pecah karena perbuatannku menunda kebaikan dan tak menggubris keluhan anakku. Sesal kemudian tak berguna. Sungguh kejadian ini akan aku jadikan pelajaran berharga.

Kalkulator seharusnya membantu aku menghitung, tidak hanya atas angka-angka raport siswa-siswi didikku, tapi juga mengitung-hitung seberapa banyak amal kebaikan yang telah aku lakukan pada hari ini atau selama hidupku selama ini atau juga dapat menghitung hitung keburukan apa saja yang telah aku perbuat sehingga seringkali amal kebaikan itu dilakukan selalu terlambat atau kesempatan untuk beramal itu akan hilang selamanya. Kesempatan memang jadi pilihan kita, akan memberikan bantuan segera atau menunda. Kalkulatorku toh tetap hilang dari tanganku, namun tak memiliki nilai karena keterlambatan aku memberi, seandainya tadi padi aku segera memberikan kalkulatorku tentu rika sudah tak lagi bingung menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, tentu ibunya tak lagi bingung mencarikan dana untuk membeli. Dan selalu saja aku swring menunda amal. Sesuatu yang sebenanrya sangat berlawanan dengan hatiki.

Selalu saja penyelsala itu datang di akhir. Seandainya aku langsung memberikan kalkulator itu tentu Allah akan catatakan itu sebagai sebuah amal, belum lagi bila kalkulator itu terus digunakan dan dimanfaatkan oleh sampai ia selesai sekolah….. Ya Allah ampuni aku atas lambatnya hati ini tergerak membantu, YA Allah berilah aku kekuatan untuk menyegerakan berbuat baik, jangan engkau tunda-tunda hati ini, untuk memilih yang terbaik bagi driku sendiri. Ya Allah Maafkan aku…. Ampuni Aku YA Allah.