jump to navigation

Kesedihan Ayu May 31, 2008

Posted by demasproduction in Uncategorized.
trackback

Pagi itu jam belajar dimulai dengan olah raga , teman –teman Ayu terlihat senang , hari ini Pak Yoga guru olah raga mengajak kami sekelas lomba kasti. Tapi perasaan senang itu tak dapat dinikmati Ayu ,sedih saja hari ini yang Ayu rasakan. Tadi pagi Ayu kecewa pada ayahnya , ia tak mendapatkan uang saku yang diminta sebesar Rp20.000,- ayahnya hanya bilang “Terlalu besar uang sebesar itu untuk anak SD seusiamu”!.
Ayah hanya memberi Ayu Rp3000,- .Hati Ayu mengatakan , “ Ini kan hanya cukup beli permen…”!.

Ayu benar-benar tak ingin tersenyum pada semua orang hari ini.
Ayahnya tak pernah dapat memahami kebutuhannya, tidak seperti ibunya. Ayu coba mengingat kejadian beberapa tahun lalu, mengingat kenangan bersama sang ibu. Beliau telah berpulang tiga tahun lalu. Lebih buruk lagi satu tahun sebelum kecelakaan ayah dan ibunya bertengkar setiap hari, entah apa yang menjadi penyebabnya Ayu sungguh tak mengerti. Malam itu ibu Ayu belum pulang hingga waktu sudah larut malam. Saat ayah menelpon ibunya, ia sedang dijalan satu mobil bersama Om Rudi yang Ayu tahu ia adalah teman kerja ibunya di kantor. Pagi hari menjelang subuh terdengarlah berita mengejutkan , sang bunda meninggal dalam kecelakaan di jalan tol. Sementara Om Rudi luka parah.

Dimata sang ayah, ibu Ayu adalah wanita buruk , sibuk berkarir, tak pandai mengurus keluarga. Tetapi tak dirasakan hal itu pada Ayu. Dihadapan Ayu ibu sangat baik, tak pernah Ayu dapatkan uang saku dibawah Rp10.000,- Saat ini Ayu memiliki ibu baru yang artinya punya ibu tiri, Ayu memanggilnya mama. Mama baru Ayu sebelumnya adalah teman kerja ayah, ayah pernah bilang ia staf bagian keuangan . Ayu masih merasakan kehadiran sang bunda sementara ia belum bisa merasakan kasih sayang dari mama barunya, walaupun mama barunya bersikap baik pada dirinya dan adiknya.
Yang tak dimengerti Ayu mengapa orang tuanya lebih akrab dengan teman-temannya. Sebelum ibu meninggalkan Ayu dan adiknya, sering terdengar Om Rudi menelpon ibu . Sering terlihat pula Om Rudi mengantar ibunya pulang kerja Begitupun ayahnya, saat ia bersantai di rumah selalu saja handphonenya berdering lalu terdengar suara wanita dengan mesranya berbicara dengan ayah, ayah terlihat gugup menjawabnya, Ayu mendengar dan memperhatikan, ayah hanya menjawab ya…ya… dan… ya….terus. Setelah ibu tahu , merekapun ribut lagi. Ayu tentu tak dapat memahami semua ini. Inikah cara mereka berkeluarga ? Ayu tak sanggup dan belum mampu memikirkannya. “ Tak pentingkah arti kehadiranku dan adikku didunia ini “?, pikir Ayu. Mereka lebih asyik dengan dunia orang tua.

Saat Ayu melamun.Pak Yoga memanggil turun kelapangan. Sungguh Ayu tak tertarik untuk ikut turun. Ayu katakan pada gurunya “ Pak saya pusing”, Pak Yoga mengiyakan sambil berkata “Ya istirahat saja kamu dikelas”.

Tak terasa setengah jam sudah Ayu di kelas, sebuah tas warna biru menyita perhatiannya .”Bukankah tas ini milik Haris ?,hati Ayu bertanya. “Ya benar sekali teman terkaya dikelasku… ah…tergoda aku untuk melihat isi dompetnya”.
Yang terjadi tak lama kemudian dompet Haris telah berpindah di kantong rok Ayu. Cepat-cepat Ayu berlari ke toilet samping kelas. “Wow…lembar lima puluh ribuan”!.

Bel berbunyi saat jam istirahat mulai, terlihat Nabil, Adit, Bintang dan Haris maju ke depan menghampiri Bu Dina ibu guru. Mereka serempak berkata , ”Bu…dompet Haris hilang !!!”
Deg….deg…..deg ….jantung Ayu berdegup kencang segera ia berlari keluar menuju kantin sekolah, dengan tak memperdulikan pengaduan teman-temannya kepada Bu Dina. “Tak akan kusia-siakan uang ini”, hati Ayu berbisik, dibelinya sebuah es krim dan semangkuk bakso dikantin . Kenyang sekali…….. rasanya, kesedihan Ayu dan kekecewaan pada ayahnya hilang seketika.
Bel masuk kelas berbunyi. Bu Dina memulai pelajaran dengan wajah muram tak seperti biasanya. “Anak-anak baru saja temanmu Haris kehilangan uang beserta dompetnya”, sapa pertama Bu Dina.
“Ibu guru lebih senang dengan anak bodoh tapi jujur dari pada anak pintar tapi suka mengambil hak orang lain alias mencuri’, seru Bu Dina berikutnya. Satu kelas terdiam tak berani bicara . Terlihat nada marah dari bu guru . “Ibu sudah mendapat laporan siapa pencuri di kelas ini ,” lanjut Bu Dina .Perasaan takut, bingung, cemas bercampur jadi satu saat itu dirasakan Ayu.
Pulang sekolah Bu Dina menyentuh bahu Ayu seraya berkata “ Ayu ibu guru ingin bicara ikut ibu ya ke kantor guru “. Ayu tersentak “Ada apa bu”, tanya Ayu seolah tak tahu maksud Bu Dina. Dengan terpaksa Ayu memenuhi panggilan Bu Dina. Bu Dina memeluk pundak Ayu menggiringnya menuju kantor guru. Setelah panjang lebar Bu Dina berceramah tak terasa air mata Ayu menetes. “Ini uangnya bu aku tidak mencuri “, Ayu membalas setengah mengakui, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Tetapi perbuatanmu dibenci Allah nak”, sela Bu Dina.
“Bertaubatlah minta ampun lah kamu pada Allah”, pinta Bu Dina.

Ayu mengangguk perlahan sambil menangis penyesalan mulai dirasakannya. Di balik pintu luar kantor guru, terdengar suara teman-temannya berbisik-bisik sambil mengejek “ Eh yang mencuri dompet Haris si Ayu “. “ Ih Ayu pencuri “. “Kasihan deh Haris “. komentar banyak temen-teman Ayu diluar.