jump to navigation

Menjual handuk May 31, 2008

Posted by demasproduction in Uncategorized.
trackback

Pagi itu kami baru saja siap-siap menyantap makanan yang disiapkan mbok iyem. Nasi goreng hangat, dengan telor dadar pastilah mengoda. Anak-anakku sangat menyukai sarapan pagi dengan nasi goreng dengan lauk telor dadar, semua nampak menyukuri akan makanan yang telah terhidang, Radhi putra ku yang terbesar memimpin doa makan, belum lagi satu suap aku mulai, Tiba tiba dari balik pintu pintu rumahku terdengar ada yang mengucapkan salam, “Assalaamu’alaaikum”.

“Waalaai’aikum salam warahhamtulah wa barakatuhu”jawabku sambil menyegerakan menghampiri suara tersebut. Rupanya Ibu rahma tetanggaku sudah berdiri mematung sambil menunduk kepalanya di disamping pintu pagar rumahku. Aku persilahkan ia masuk. Ia nampak ragu-ragu, ketika mengetahui kami sebenarnya sedang sarapan terlebih lagi ketika ia juga aku ajak duduk di meja makan.

Aku ambilkan piring di dapur rumahku yang kecil itu, menyerahkan piring kepadanya “Ayo sambil sarapan” ujarku sambil memberikan piring pada ibu rahma, ia hanya mengeleng perlahan.

“Anu bu, saya sebenarnya malu, tapi harus bagaimana lagi, saya perlu uang, sejak kemarin kami sekeluarga belum makan, saya perlu untuk makan hari ini, tapi saya malu pinjem lagi sama ibu, untuk itu saya mau jual handuk ini” katanya lamat-lamat.

“memangnya bapaknya anak-anak kemana bu rahma ? dan kenapa ibu jual handuk segala” tanya istriku.

“Itulah bu…. Sudah seminggu ini bapaknya anak-anak tidak dapat kerjaan, sudah kesana kemari mencari orang yang mau bikin bangunan engak-ada yang manggil-manggil. Maklumlah bu Cuma kuli bangunan, makanya saya pusing dan akhirnya saya kesini, saya mau jual handuk ini, 20 ribu saja” katanya sambil membuka bungkusan koran yang ia bawa dari tadi.

Aku tertegun, tadinya aku membayangkan handuk yang dimaksud adalah handuk baru, namun ternyata hanya handuk bekas yang selama ini ia pergunakan. Napsu makanku hilang dengan sendirinya. Aku membayangkan keluarga dengan 3 anak kecil belum makan seharian, sementara aku makan pagi ini. Ah… semuanya jadi hilang semangat.

Aku jadi terbayang ketika kemarin siang aku ditarktir makan oleh rekan kerjaku yang kebetulan bekerja di perusahaan minyak milik amerika, kami makan berlima di restorant yang berlamat di gedung sebuah bank ternama milik pemerintah di jalan sudirman, dari tagihan yang sempat aku lihat tercantum Rp. 2.116.800 rupiah. Gila bener, aku tertegun menyaksikan angka sedasyat itu hanya untuk kami makan berlima. Sementara pagi ini aku menyaksikan tetanggaku tak dapat menanak nasi untuk makan anak-anaknya.

Aku tengok wajah suamiku, Ia seperti meminta aku segera mengeluarkan sejumlah uang, dari tatap matanya aku tahu kebiasaannya yang tak dapat melihat orang lain dalam keadaan susah, ia inginnnya selalu saja menolong orang lain, padahal ia sendiri dalam keadaan sulit.

Aku bingung, di dompetku pagi hanya ada uang Rp. 100.000.- rupiah saja, itupun sebagian akan aku pergunakan untuk membayar SPP anakku. Sekali lagi aku tatap wajah suamiku, nampak ia memberi issyarat agar aku memberi ½ dari yang aku miliki. Aku diam. Tak terasa tangan ini membuka dompet dan mengeluiarkan selembar Rp. 50.000.- dan menyerahkan kepada ibu rahma “ Bu … ini uangnya, handuknya ibu bawa pulang saja” kataku lagi” semoga dapat ibu menfaatkan dengan baik,”

“terima kasih ibu, kembaliannya nanti saya anter bu” kata bu rahma lagi.

“ngak usah. Itu semua buat ibu, ini sekalian bisa dibawa pulang nasi gorengnya” sambil aku minta mbok iyem untuk menyiapkan piring.

“Aduh ibu, jadi merepotkan sekali, terima kasih sekali bu, sudah membantu saya, saya mau langsung pulang saja” ujar ibu rahma sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, tangannya nampak kaku ketika aku serahkan piring besar berisi nasi goreng itu kepadanya.

“tidak apa-apa bu, saya senang bisa membantu ibu”. aku mengantarkannya keluar.

Suamiku tersenyum, dan berkata” kamu baru saja mengamalkan kebaikan, yang dengan kebaikan itu memberikan manfaat pada banyak orang, nanti kita makan bubur ayam aja. Dekat sekolah Radhi”

“Mas, kita engak punya uang lagi lho, uang yang tadi aku serahkan sebenarnya untuk anak kita membayar SPP”, ujarnya perlahan. Aku hanya terdiam sesaat, terlebih ketika mobil antar jemput anakku telah tiba. Bunyi klaksonnya mengingatkan agar aku juga segera bersiap-siap berangkat. Seraya berkata “nantilah aku pinjam di kantor” kataku perlahan kepada istriku. Ia masih saja belum mengerti kenapa uang yang tinggal sebanyak itu harus juga dibagi dua. Nanti kita juga bisa seperti mereka makan harus meminjam kesana –kemari, membingunkan tetangga-tetangga saja. Lagian suamiku ini terlalu baik banget. Uang tinggal segitu-gitunya itupun untuk bayar SPP dan transprort masih juga dibagikan ke orang lain.

Aku hanya bisa bilang kepada istriku, bahwa kelaupun kita kesulitan makan tentu tidak seperti keluarga itu kesulitannya, mereka benar-benar tidak ada apa-apa lagi yang bisa dimasak. Sementara kita di kulkas masih ada sayur-mayur dan lauk-pauk yang dapat segera dimasak untuk tiga hari kedapan. Kita belum seberapa sulit jika dibandingkan dengan bagaimana para sahabat lebih rela tidak makan atau berpuasa jika tidak ada lauk dirumahnya.