Mereka lebih membutuhkan May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.trackback
Pagi itu, bersama teman-teman sedang mengadakan pelatihan bersama BNI Syariah di kota Solo, tiba tiba gedung tempat kami menyelenggarkan pelatihan bergetar perlahan namun lama-lama semakin keras. Semua orang panic berlarian menuju tangga darurat hotel. Gempa… gempa…… demikian orang berteriak mengingatkan yang lain agar keluar dari gedung.
Tak berapa lama berselang ditengah acara pelatihan, saya dikejutkan dengan telpon yang mengatakan bahwa Yogya dilanda gempa dan saya diminta untuk tidak pulang terlebih dahulu ke Jakarta, saya diminta untuk menjadi tim awal yang mempersiapkan tim Dompet Dhuafa Republika mengirimkan bantuan ke kota Gudeg tersebut. Kami berlima saling memandang, wah baju yang dibawa Cuma untuk 2 hari nih, apalagi yang satu baju batik. Masak datang ke lokasi bencana pakai batik. Namun saya minta teman-teman tetap harus ke Yogya sesegara mungkin, selesai pelatihan harus segera berangkat ke Yogya. Isi pulsa ke handphone masing-masing untuk mengabari keluarga bahwa ngak jadi pulang sore ini, karena harus ke Yogya. Untungnya semua istri-istri mereka memahami tugas ini, paling Cuma istrinya Asep aja yang agak sulit menjelaskan, Maklum pengantin baru,
Sepanjang jalan dari kota solo, begitu memasuki kota klaten, mulai terasa akibat gempa yang tadi pagi kita rasakan tersebut. Banyak rumah-rumah yang hancur rata dengan tanah. Tapi kami terus melanjutkan perjalanan, karena tujuan kami adalah kota kota yogya, kota yang dalam berita radio dan SMS yang saya terima kota terparah. Memasuki kota Yogya, nampak gedung-gedung yang retak-retak, beberapa nampak ingin rubuh.
Setiba di kota Yogya, suasana gempa semakin terasa, dari radio aku mendengar jumlah korban terus bertambah dari jam ke jam. Saya laporkan terus kejadian ini ke Jakarta dan meminta agar mereka buka dompet bencana. Bersama dengan mitra yang ada di Yogya, malam itu kami mengatur strategi agar kita bisa sesegaera mungkin mendistribusikan bantuan.
Kami berencana membagikan makanan segera dan berbagai kebutuhan hdup lainnya esok pagi, pagi sekali, namun malam itu, tak satupun pasar yang buka, jadi kami kharus berbelanja di Purworejo dann kota lainya di sekitar Yogya. Malam itu akhirnya saya dan teman-teman bermalam di halaman parkir kantor mitra Dompet Dhuafa. Padahal magrib tadi sempat memesan kamar di hotel. Kami tak tega sementara banyak pengungsi khawatir dengan gempa susulan, kami enak-enak tidur di hotel.
Pagi itu akhirnya kami berhasil memasak untuk beberapa ratus makanan siap saji dan ratusan kardus mie instan. Yang siap dibagikan kepada para pengungsi. Banyaknya pengungi membuat kami kesulitan membagi. Namun kami menemukan sekumpulan mbah-mbah yang berkumpul sambil menatap bantuan yang kami bawa. Nampak gembira betul mereka menatap kami. Aklhirnya kami putruskan untuk membagikan banyuan tersebt kepada mereka. Satu persatu bantuna diberikan. Aku yang terkahir memberikan mendatangi mbah yang sedari tadi memegang terus kedua kakinya yang tertimpa potongan kayu. Namun ketika aku berikan bantuan tersebut, ia mengatakan saya sudah dapat…… yang disana saja yang belum, mereka lebih membutuhkan dari saya, saya sudah cukup dapat ini.
Bergetar hati saya mendengar omongan mbah ini, belum pernah dalam sejarah kami membagikan bantuan, orang menolak menerima bantuan, seringkalinya malah mereka yang sudah mendapatkan bantuan datang lagi untuk meminta. Kalupun tangan kanan sudah diberikan makan tangan krinya kan meminta lagi. Tapi kali ini saya diasadrkan akan pentingknya kesederhanaan. Kalau cukup dengan bantuan ala kadarnya mengapa harus menimbun bantuan. Saya malu … dan saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari kesederhanaan dan keasadaran untuk mendahulukan orang lain dan memuliakan orang lain.
