Pejuang Masa Kini May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.trackback
Kemeriahan di setiap sudut pemukiman penduduk selalu terlihat ketika menyambut hari kemerdekaan RI. Tidak tanggung-tanggung selama satu bulan penuh selalu diwarnai oleh aneka kegiatan yang sifatnya hiburan rakyat. Adat kebiasaan masyarakat di malam tanggal 17 Agustus biasanya diadakan tirakatan, sebuah acara renungan untuk mengenang kembali perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Entah itu berupa pembacaan puisi ataupun mendengarkan cerita kembali tentang perjuangan di masa lalu oleh sang mbah veteran perang.
Semua itu seolah menutup makna perjuangan yang sesungguhnya bahwa kemerdekaan yang yang dicapai oleh para pejuang terdahulu adalah untuk mensejahterakan masyarakat. Memerdekakan setiap individu untuk mendapatkan hak-hak hidup mereka sebagai warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang murah namun berkualitas, kesehatan yang dapat dijangkau.
Namun kenyataan yang ada seolah cita-cita kemerdekaan itu jauh panggang dari api. Kemandirin bangsa untuk mengelola sendiri kekayaan alammnya sendiri tak mampu. Bagaimana mau dikatakan mandiri kalau aset beberapa industri strategis milik bangsa dikuasai oleh pihak asing. Kekayaan alam kita habis dikeruk oleh pihak asing lewat yang namanya kontrak karya ataupun kontrak bagi hasil, tanpa peduli lagi dengan konservasi alam.
Lantas apa sih yang harus diperjuangkan oleh para pejuang ini, utamanya terhadap si miskin? tak muluk sebenarnya yang mereka minta. Ingat kebutuhan dasar manusia itu ada lima hal, yaitu : sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan. Kelima sektor inilah yang merupakan ajang para pejuang untuk bisa membaktikan dirinya. Satu hal lagi yang paling penting dan merupakan pondasi dari kelima faktor tersebut adalah ekonomi. Ekonomi-lah yang mengubah si miskin menjadi memiliki kekuatan untuk bisa terangkat harkat dan martabatnya. Umpan dapat diberikan sekali saja, tapi setelah itu harus diberikan kail. Bagi yang tak bisa menggunakan kail, berilah pelatihan-pelatihan. Ibarat roda bisa berputar dan berjalan jika ada jalan atau rute yang akan dilalui, maka ekonomi pun demikian halnya. Agar ekonomi bisa berjalan butuh sarana infrastruktur yang mendukung. Nah ! tugas para pejuang inilah yang harus membantu dan membangun berbagai infrastruktur pendukung ekonomi kaum lemah, entah itu berupa akses pasar, akses pembiayaan ataupun bantuan informasi teknis terkait masalah produksi. Hal seperti inilah yang baru diperjuangkan oleh beberapa gelintir pejuang saja. Tanpa bermaksud bersikap pesimistis, mengurusi orang-orang miskin ini bukanlah sebuah pekerjaan yang mendatangkan profit, hingga jarang pejuang yang terjun di bidang yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat miskin.
Pejuang-pejuang masa kini tidak lagi bersenjatakan bambu runcing ataupun bedil. Modal pejuang masa kini bisa berupa pulpen, kertas, dan kecerdasan otak. Pejuang-pejuang masa kini tidak lagi berperang di medan perang, melainkan di kelas-kelas, di ruang rapat, dan bahkan di rumah sakit. Ya! ada pejuang di bidang pendidikan, pejuang di bidang ekonomi, pejuang kesehatan dan masih banyak lagi.
Segelintir “pejuang” di masa kini sudah mulai tergoda dengan manisnya dunia. Tak dapat dipungkiri, sekarang ini ada pejuang-pejuang yang sedang berada “diatas” dan “basah” lagi. Siapa yang tak tahan godaan berupa fulus dan berbagai fasilitas mewah lainnya. Nikmat dunia seolah melenakan para pejuang itu di dalam zona nyaman dunia. Sakingnya nyamannya, mereka enggan di suruh gantian dengan generasi penerusnya. Bahkan kalau mungkin bisa dibawa selamanya. Alibi yang bernama otonomi daerah seolah menjadi justifikasi munculnya raja-raja baru di daerah. Kalau sudah begini jadinya, tentu ada yang menjadi tumbal. Ya ! siapa lagi kalau bukan rakyat miskin. Atas nama rakyat pula mereka para pejuang sering berkoar-koar. Ah ! yang penting kan retorikanya nyampe ke rakyat, masalah kapan janji akan ditepati itu urusan nanti, bahkan kalau perlu dilaksanakan ketika akan pilihan lagi. Entah karena sistem ataukah sudah menjadi budaya yang menjadikan mereka begitu rakus akan nyamannya dunia. Tak dapat lagi dibedakan antara pejuang rakyat ataukah penindas rakyat. Seperti inikah yang kita inginkan, tentu tidak bukan.
Berjuang artinya berani mengorbankan kepentingan pribadi untuk kemashlahatan yang lebih besar. Apa balasannya bagi mereka ? Allah SWT sudah menjanjikan balasan berupa naungan di hari kiamat nanti, abstrak memang tapi inilah janji Allah SWT. Sikap mental bangsa yang ingin cepat menikmati hasil dan selalu ingin mengambil jalan pintas harus segera dihilangkan. Caranya lewat suri tauladan para pejuang tadi. Jadi yang digugu dan ditiru tidaklah harus guru, tapi juga semua orang yang telah berbuat banyak bagi masyarakat. Kalaulah ia pejabat, maka kebijakan yang diambilnya tidak akan menyengsarakan masyarakat luas. Kalaulah ia pimpinan di sebuah perusahaan keputusan yang diambilnya bukanlah untuk kepentingan dan memperkaya diri sendiri. Karena sesungguhnya yang terbaik bagi ia adalah memberikan sebanyak-banyaknya manfaat buat orang lain. Ingat perjuangan bangsa masih panjang, siapkah kita menjadi bagiannya ?
