jump to navigation

Rp 50.000, yang menyelamatkan May 31, 2008

Posted by demasproduction in Uncategorized.
trackback

Sore itu, saya gembira betul telah berhasil menyelesaikan bahan-bahan tulisan untuk majalah komunitas kurban yang kebetulan harus saya selesaikan di Yogyakarta. Puas rasanya setelah beberapa hari ini kami bersama dengan teman-teman menyelesaikan tugas itu dengan sempurna, Siang malam kami menyelesaikan desain dan tulisan bergantian.

Setelah berpamitan dengan temen-teman yang membantu desain majalah tersebut, sayapun diantar menuju bandara, dan masya Allah…. waktu tinggal satu jam lagi untuk chek in di bandara, sementara telepon agen pesawat sibuk terus, padahal perjalanan ke bandara masih membutuhkan waktu 30 menit lagi. Hati saya berdebar-debar…. khawatir tak cukup waktu.

Sambil meminta pengemudi yang mengantarkan saya untuk mengemudikan mobilnya agak lebih cepat, saya bermaksud memberikan uang sekedarnya untuk driver kantor teman saya tersebut. Namun ternyata dompet di saku saya kosong sama sekali, ngak ada uang sepeserpun. ”kalau ada ATM kita mampir dulu ya atau di bandara ada ATM ngak ya ” tanyaku setengah khawatir. ”Ada mas….., dekat pintu keluar bandara” katanya. Sayapun tenang kembali.

Setiba di bandara Adi Sucipto Yogyakarta, aku bergegas turun. mencari ATM, sementara mas dwi mencari tempat untuk memarkir mobil. syukur alhamdulilah aku melihat deretan ATM di sudut gedung. Tiba-tiba handphoneku berdering ” Mas…. saya harus segera ke kantor, jadi ngak bisa menemani mas yuli di bandara, di mobil ada barang mas yang tertinggal apa tidak”
”Engak apa-apa, tinggal aja….makasih ya sudah diantar”kataku

Di depan ATM aku lihat ada beberapa orang yang tengah antri, akupun ikut berdiri dibelakang antrian, namun setiap kali orang selesai antrian, aku mendengar gerutuan, bahwa mesin ATM tak bisa digunakan. Waduh…. bisa kacau nih. dan setiba didepan ATM, aku berdoa semoga aku bisa menarik sejumlah uang, minimal untuk membayar airport tax bandara dan ongkos aku naik taksi ke rumah. Ya …. Allah tolong aku….. dan benar saja mesin ATM itu untuk sementara tidak dapat melayani. Aku menyesali kebodohanku…aku berusaha tenang dan mencoba hubungi teman kantorku, namun yang terdengar mesin mailboxnya. sementara waktu telah sedemikian habis.

Aku bergegas menuju tempat penjualan tiket, sambil menunjukkan tiket yang aku sudah miliki, aku bertanya ”bolehkan saya menunda penerbangan hingga nanti malam” ”pak… ini sudah penerbangan kami yang terakhir menuju Jakarta, bapak dipersilahkan cek in, karena sebentar lagi akan kami tutup” ”Iya … makasih mbak” Tapi saya bayar pajak bandara pakai apa…

Ditengah kebingungan seperti itu, saya memberanikan diri untuk meminjam uang kepada orang yang sedang membeli tiket ke Jakarta, dengan penerbangan yang sama, ”pak saya kehabisan uang, boleh saya pinjam Rp. 25.000.- saja untuk saya bayarkan airport tax”. Bapak itu memperhatikan saya dalam-dalam, dilihatnya tas saya, dummy pekerjaan majalah serta jaket tempat saya bekerja.

”Mas, dari Dompet Dhuafa” tanyanya menyakinkan
”Iya benar pak” kataku lagi. ”Saya tadi berharap ada ATM di bandara ini, dan ternyata ATM tersebut tak dapat digunakan”
”Benar mas…. saya bekerja pada Bank Syariah yang kebetulan bermitra dengan bank yang ATMnya mas maksud, sayapun tadi bermaksud ambil dana tapi ternyata ngak bisa”
”Bapak…. jadi, saya boleh pinjam uangnya” tanya saya lagi menyakinkan.
”Oh… boleh…benar, cukup 25.000 saja” katanya
”cukup pak, saya Cuma perlu untuk bayar airport tax saja, selepas itu saya akan naik taksi ke rumah, saya minta kartu nama Bapak, setiba nanti di Jakarta saya akan kekantor Bapak, untuk menganti, ini kartu nama saya” sambil saya serahkan kartu nama berwarna hijau sayapun merima uang selembar limapuluh ribuan dari Bapak yang tidak saya kenal itu.
”Tak usahlah…. ini uang lima puluh ribu dan ini kartu nama saya” jawabnya seraya menyerahkan kartu namanya, Rupanya ia pimpinan cabang pembantu sebuah bank syariah, dekat kantor saya.
”Saya pinjamnya duapuluh lima ribu saja pak” kata saya lagi.
”Iya tapi saya tak ada uang dua puluh lima ribu, pakai saja tak apa” katanya lagi. Sayapun segera pamit kepadanya dan tak putus-putus mengucapkan terima kasih kepadanya. Saya terus berlari memburu waktu, agar masih sempat pergi dengan pesawat terakhir.

Saya rupanya adalah penumpang terakhir yang ditunggu, setelah membayar airport tax, alhamdulillah akhirnya bisa juga terbang sore ini, karena esok pagi ada rapat di kantor. Semingu berselang setelah saya tiba, saya sempatkan mampir di bank syariah tempat Bapak Rahmad, namun saya tak dapat menjumpainya. Katanya ia sudah pindah menduduki cabang utama di bank syariah tersebut. Namun saya telah berjanji untuk mengembalikan uang yang pernah saya pinjam. Sayapun menjumpai pimpinan cabang penggantinya. Sembari saya jelaskan permasalahanya dan akhirnya ia mau memberikan nomor telepon kantornya yang baru.

”Assalamu’alaikum Wr. Wb…. ” salamku
”Walaikum Salam….ada yang bisa saya bantu” aku mendengar suara operator telepon menjawab salamku.
”Saya ingin bicara dengan Bapak Rahmad, saya Yuli dari Dompet Duafa, beberapa hari yang lalu saya berjumpa dengan Bapak Rahmad di Yogya, saya meminjam uang darinya, dan saya ingin mengembalikan hari ini, namun saya kehilangan kontak”
”Sebentar Pak, saya akan sambungkan terlebih dahulu”, setelah agak lama barulah terdengar.
”Assslamu’alaikum …. Pak Yuli, apa kabar ?” katanya perahan
”Walaikum salam….alhamdulillah sehat, Saya ingin mengembalikan uang yang pernah saya pinjam beberapa hari yang lalu, mohon maaf sudah mengganggu kesibukan bapak, namun karena saya pernah janji untuk mengembalikan, baru hari ini saya dapat mengembalikan”
”Ah… Mas Yuli ini, saya sudah melupakannya, apalagi setiba dari Yogyakarta minggu lalu, tiba-tiba saya ditarik ke pusat, apalagi uangnya juga ngak seberapa”
”benar pak, walaupun ngak seberapa, namun saya sudah janji untuk mengembalikan, jadi saya mohon maaf, baru bisa mengembalikan hari ini, karena sudah terlambat beberapa hari dari yang saya janjikan, lalu gimana caranya saya kembalikan uang ini, apakah harus saya tranfer atau saya antarkan langsung ke ruang Bapak” kataku memohon.
”waduh… untuk uang sekecil itu, mas yuli sudah repot-repot, ngak usah dikembalikan, saya sudah ikhlas memberi. Lagian saya tidak minta dikembalikan uang itu, namun mas yuli saja yang janji aja. Gini aja, saya terima kasih mas yuli berniat ngembalikan uang itu, namun saya juga ngak mau merepotkan mas yuli. Uang tersebut mas yuli kasihkan saja ke security di kantor saya, tak usah bilang dari saya, sampaikan saja ke dia, mudah-mudahan bermanfaat”
”Sungguh pak,… bila benar seperti itu, saya akan penuhi amanah bapak, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan bapak, sudah meminjamkan saya uang, walaupun hanya sebesar Rp. 50.000., karena dengan uang itu, saya bisa hadir tepat waktu di rumah dan kantor”
”Sama-sama mas yuli… terima kasih juga sudah berkunjung ke kantor saya, tapi akan lebih berterima kasih lagi bila mas yuli mau juga menjadi nasabah saya, ha… ha… ha…” katanya

Sayapun bergegas keluar kantor dan mencari security yang ada di depan kantor, sembari menyerahkan uang sebesar Rp. 50.000.- titipan pak rahmad. Ia terbengong-bengong menerima uang sebesar itu. Dan mengucapkan terima kasih yang tiada henti-hentinya, sambil terus berdoa, semoga Dompet Dhuafa semakin besar dan berkembang. Hari itu saya belajar untuk selalu memberi seberapapun saya punya uang, bila ada teman atau sahabat yang memerlukan pertolongan, karena saya tahu pasti suatu saat sayapun akan akan mendapatkan pertolongan, entah dari mana pertolongan itu akan datang. semoga. (Yogyakarta, November 2005)