Sedekah yang membekas May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.trackback
Pada sore di masjid At-Taqwa di bilangan Klandasan, Balikpapan. Usai sholat ’asar para jamaah yang sebagian besar pedagang keliling, merebahkan badan, meluruskan punggung sejenak, rehat setelah keliling kota menjajakan dagangannya. Begitu juga karyawan perusahaan sekitar masjid. Sambil menunggu bedug Maghrib terlihat seorang pria dengan pakaian sederhana yang warnanya sudah memudar tampak pakaian itu dicuci-pakai, wajahnya layu dan badannya kurus seperti kurang tidur dan makan, terlihat khusu’ berdoa memohon Sang Khalik tak hentinya ketika semua jamaah telah berebah dan ngobrol.
Tak lama kemudian lelaki itu beranjak, di bawah kubah masjid menyapa seorang ustadz, setelah berkenalan ternyata mereka asyik ngobrol dan mulailah bercerita si lelaki itu tentang kedatangannya di kota ini, sekian lama mencari pekerjaan tak kunjung dapat, ’nomaden’ menjadi pilihan, dari masjid satu ke masjid yang lain. Suatu kali dia tinggal selama sebulan di masjid satu ternyata petugas masjid harus mengusirnya karena akan menjadi beban masjid kemudian berpindah di masjid At-Taqwa ini, bahwa kalau malam masjid ditutup dan tidak boleh untuk tidur karena dikhawatirkan pengurus masjid akan mengganggu kekusyukan jamaah yang beribadah disebabkan mungkin ada bau yang tertinggal di karpet masjid.
Maka lelaki itu harus tidur di teras masjid bersama dengan gelandangan yang lain hanya dengan beralas karton atau kertas koran bekas, dini hari udara terasa begitu menggigit, terdengar gigi gemeretak seolah mau lepas dari gusi saking dinginnya ditambah lagi hujan turun begitu deras tak perduli yang tidur tanpa selimut juga menjadi bagian dari air yang turun dari langit.
Ustadz itu terkulai lemah mendengarkan lelaki itu bertutur, tatapan kosong seolah menelisik kedalam kelopak mata lelaki yang cekung, lalu berkata ”aku tak bisa membantu, namun ada sedikit uang di kantongku”, setelah tangannya merogoh kantong celana dikeluarkanlah uang kertas dengan nilai Rp. 5.000,- ”ini buat kamu, sedekah dariku, terimalah” ujar ustadz. Dengan gemetar tangan lelaki itu menerima uang yang sudah lama tak ada di kantongnya.
Akhirnya sang ustadz harus pergi karena sudah ada jadual mengaji, terpikir oleh lukman tentang teman yang selama ini menolongnya. Kemudian dengan langkah gontai di menuju rumah kontrakan temannya, Ujrah.
Sesampai di tempat Ujrah, ”Assalamu’alaikum” teriak Lukman dari luar kamar Ujrah, ”alaikumussalam….masuk Man”. Bercengkerama mereka melepas kangen yang selama ini dipendam, tiba-tiba perut Ujrah berbunyi ”kruk” begitu nyaringnya hingga membuat mereka tertawa terbahak, akhirnya Lukman menawarkan makan malam bersama karena dilihat Ujrah telah berpuasa selama 3 hari ini disebabkan tanggal gajian belum kunjung tiba.
Lukman bergegas keluar membeli sebungkus nasi goreng di pinggir jalan dengan uang pemberian ustadz tadi. Tak banyak dan lama berpikir, walaupun selama ini dia juga harus menjalani seperti yang dilakukan Ujrah, kalau Ujrah sudah tiga hari tak makan, Lukman lebih lama dari yang dilakukan Ujrah.
Tak lama kemudian ia telah membawa bungkusan nasi goreng, Teman yang dari dulu telah membantunya selama di kota ini karena merasa terlalu sering merepotkan maka lelaki ini memilih tidak bergabung dengan temannya itu walaupun harus berbohong telah dapat kontrakan untuk tempat tinggal.
Ternyata temannya belum memperoleh gaji dan sudah dua hari ini harus makan sekali sehari, maka lelaki ini yang telah diberi sedekah oleh ustadz datang dan makan bersama nasi goreng sebungkus berdua. Entah apa yang terlintas di pikiran lelaki itu bahwa sebungkus nasi ini baru ia dapatkan dan tak tahu besok dia akan makan apa dan dapat uang dari mana. Namun hanya keyakinannya Allah pasti akan membagi rezeki padanya.
