Tempurung buat Ibu May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.trackback
Hasan, tinggal bersama ibunya sejak ayahnya meninggal. Mereka tinggal di desa jauh dari kota. Hasan kecil dibesarkan hingga meraih gelar sarjana. Untuk membiayai anak semata wayangnya itu, siang malam ibunya membanting tulang seorang diri, semuanya dijalani demi cintanya kepada anaknya dan janji setia kepada suaminya. Cincin pernikahan sebagai harta berharga satu-satunya, terpaksa ia jual, ketika Hasan kecil mengalami sakit panas yang amat tinggi.
Kini Hasan telah menjadi pengusaha sukses, usahanya mulai merambah keberbagai sektor bagai gurita. Mengingat ibunya yang telah tua dan sakit-sakitan, Hasan memboyong ibunya ke rumahnya dikota. Tentunya setelah mendapatkan persetujuan dari sang istri tercinta, Minah.
Ketika Minah hamil, Ibunya Hasan sakitnya semakin parah bahkan dibarengi muntah darah. Minah mendesak Hasan agar ibunya dibuatkan tempat terpisah karena khawatir mungkin ibunya terkena TBC. Ia mengkhawatiri jika anaknya lahir kelak bisa-bisa tertular penyakit itu. Ia takut sekali akan kesehatan dan keselamatan anaknya. Hasan tentu keberatan dengan usulan istri tercintanya tersebut, namun istrinya terus menerus merajuk agar mewujudkan permintaannya sambil memberikan alasan-salasan yang mendukung permintaan tersebut, sesekali dibarengi dengan ancaman dibuatkan atau ia akan kembali kerumah orangtuanya.
Dengan hati berat, akhirnya Hasan mengabulkan dengan membuat gubug di belakang rumah yang luas dan meminta ibunya tinggal di situ. Meskipun melek huruf, ibunya cukup tahu diri. Ia menganggap umurnya adalah sisa kesenangan hidup yang telah dinikmati dan dilaluinya. Ia cukup bahagia melihat anak dan menantunya hidup bahagia…. Apalagi ia akan segera mempunyai cucu, maka dengan senang hati ibunya tinggal di gubug di belakang rumah.
Mulanya segala kebutuhan ibunya terpenuhi, namun lama kelamaan sering terlupakan. Makanan ditaruh didepan gubug dan ibunya yang renta itu mengambilnya dari dalam. piring dan gelas pecah, Hasan lupa menggantinya. Dan akhirnya tempurung yang tergeletak di dekat gubug dipungutnya untuk tempat makan dan minum.
Anak Hasan lahir laki-laki, dan bahkan mulai tumbuh besar, ia dilarang bermain-main di sekitar gubug bahkan mendekatpun tak boleh. Suatu saat Hasan dan Minah pergi, anaknya bermain sendirian. Ia ingin tahu mengapa dilarang mendekati gubug. Ia mengintip ke dalam gubuk dan terlihat ada wanita tua pucat berambut putih sedang berbaring. Ia bertanya “ibu siapa”, maka dijawab “ aku adalah ibu dari bapakmu, aku dipanggil nenek”
“Nek, bukakan pintu, nek” pintanya
Alangkah gembiranya si nenek, seolah darah segar menyiram wajahnya yang pucat, seketika menjadi berseri karena girangnya. Langkah lucu dan suara anak inilah yang selama ini dirindukannya. Sakit yang selama ini dideritanya seperti hilang seketika. Ia dapat berdiri dan memeluk erat Amran, cucunya. Hatinya berbunga-bunga, senyumnya merekah
”Nek…… ini apa” tanya Amran
”Tempurung sayang, tempat nenek makan dan minum” jawab neneknya perlahan.
”Mengapa nenek makan dan minum pakai tempurung” tanya amran lagi, belum lagi menjawab Amran melanjtukan lagi ”Diberi ayah dan ibu ya nek ?” Sang nenek tak menjawab, hanya tersenyum sambil perlahan manatap wajag cucunya dari ujung rambut hingga ujung kaki, tak menyangka bakal mendapatkan pertanyaan setajam itu.
Amran kembali, keruangan dalam rumah selagi ayah dan ibunya belum pulang. Ia takut, kalau ketahuan pasti dimarahi ibunya.
Suatu hari Amran diajak ayah ibunya berjalan-jala ke kota. Ia melihat sesuatu di dekat selokan, teronggok diantara tumpukan sampah. Ia meminta kepada orangtuanya untuk mengambilkan benda itu. Permintaan aneh itu tentu ditolak oleh Hasan dan Minah.”Kamu mau apa sih, Bapak tidak mengerti apa yang kamu minta” kata ayahnya sambil menahan marah.
”Itu benda yang dibawah plastik hitam itu lho” katanya merajuk. ”Ambilkan Yah, untuk aku” katanya lagi sambil mangais lebih keras lagi.
”Botol maksud kamu” kata ayahnya ”untuk apa ayah ambil botol itu.
”Bukan yah…. bukan botol, tapi tempurung itu” kata amran perlahan.
”Ah…. masak harus ambil tempurung itu, sudahlah nanti ayah belikan pesawat remote control yang bisa terbang” kata ayahnya. Namun Amran terus menangis semakin kencang. Amran tetap meminta agar diambilkan tempurung itu. Dengan terpaksa ayahnya mengambilkan lalu menyerahkannya sambil bertanya “Amran sayang, untuk apa tempurung ini”
“Untuk tempat makan dan minum ibu kalau sudah tua seperti nenek” Amran gembira betul menerima tempurung itu, ia membersihkanya kotoran yang menempel di kulit luar batok kelapa itu. ”Nanti tempurung ini akan saya bersihkan lagi, saya akan cat agar lebih cantik, yah”
Hasan dan Minah sangat terkejut mendengar jawab anaknya mereka bertanya, “Mengapa begitu ?” tanya hanya kepada anaknya sambil mendekatkan dan memeluk erat anaknya.
Amran menjawab “Nenek Amran, yang tinggal digubug di belakang rumah kita, setiap hari makan dan minum, pakai tempurung ayah. Saya pun ingin nanti kalau ibu dan ayah sudah tua sudah tua, akan Amran buatan gubug yang baik dan tempurung ini untuk tempat makan dan minumnya” jawab Amran polos.
Hasan dan Minah bagai disambar petir, Mereka baru menyadari segala tingkah lakunya selama ini, yang telah menyia-yiakan ibu dan mertuanya. Ia telah melupakan budi baik orang yang selama ini telah memberikan semua yang terbaik untuk kehidupannya. Pikirannya menerawang, memikirkan taktakala sembilan bulan ibunya membawa ia kemanapun ia pergi dalam kandungannya. Menyusui, memberinya makanan yang bergizi, merawatnya tatkala sakit, menyekolahkan dan menikahkan. Ibu yang selama ini telah memberikan segalanya.
Sementara kini ketika ibunya dalam kesendirian ia tak mau menemani, ia tak mau memberinya tempat yang terhormat baginya.Dadanya terasa bergetar keras, Tak terasa airmatnya mulai mengalir membasahi pipinya. Ibu maafkan aku. Aku mohon ampun atas kelalaian ini.
