Ibu, maafkan anakmu May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.comments closed
Vonis bahwa istriku harus berobat dengan biaya obat-obatan yang sangat mahal tentu sangat memberatkan aku, sudah beberapa hari ini istriku terbaring lemah di rumah sakit, tanpa tahu sebab apa penyakitnya. Sampai suatu saat aku dipanggil dokter dan diminta menandatangani surat ijin untuk setuju atas biaya obat yang cukup mahal buatku. (more…)
Ibu, doa apa untukku May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.comments closed
Siang itu, pimpinan kantor memanggilku, ngak biasanya selepas rapat rutin ia menagajkakku ke ruangnya, setelah basa-basi sejenak, aku diminta duduk. Manajemen kantor memilih mas juli untuk berangkat haji tahun ini.
Allahu Akbar… kataku dalam hati, ini apaan, apakah benar aku yang terpilih,
Kemain aku bau saja terpikir untuk menabung haji, tapi kini aku malah diminta berangkat haji. Tak terpikir sebelmnya kapan aku akan berangkat, karena menabungpun aku belum.
Siang itu aku telpon orangterkasih untuk menyampaikan kegembiraanku, ia tak menyangka pula, Aku elp ibuku malam itu. ”Ibu memangnya doain apa”
”ibuku terkejut” Kau cuma berdoa agar kamu sehat sealu, terus berbuat kebaikan seperti yang selama ini kamu sering ibu lihat”
”Ibu… ” aku diminta kantor untuk naik haji”
Ibuku menangis mendengarkan itu
Ingat kisah orang yang tak satupun mendapatkan haji mabrur, setelah sebelumnya memberkan dan ahaji yang ia tabung untuk membatu tetangganya yang membutuhkan.
Haji di depan pintu May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.comments closed
Abdullah bin Mubarak adalah seorang sufi terkenal yang hidup di Syam (Damaskus) pada masa kekuasaan Bani Ummayyah. Suatu hari, sperti dikisahkan dalam kitab Irsyadul ‘Ibad, ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.
Selesai melaksanakan wuquf dan rangkaian haji lainya, Abdullan bin Mubaak merasa lkelah. Fisiknya lemah dan akhirnya iapun tertidur di lantai Masjidil Haram yang sejuk. Dalam tidurnya yang pulas itu, snag sufi bermimpi didatangani dua malaikat. Kedua malaikat itu, ia lihat turun dari langit hanya khusus untuk menemuinya. (more…)
Bubur Ayam Kurnia May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.comments closed
Bubur yang mulai panas itu akhirnya benar-benar membuatnya panas, hari ini kali pertama dia berjualan bubur. Panas karena sejak pagi-pagi menjelang subuh ia telah mempersiapkan bubur, hingga menjelang siang hari hanya 5 mangkok bubur dapat dijual. Yach…mungkin ini rezekinya hari ini, tak usah disesali, kilahnya. Tapi untuk apa sisa bubur sebanyak ini. Sekembalinya kerumah, ia serahkan sisa buburnya untuk dibagikan kepada tetangganya. Demikian seterusnya. Sisa bubur yang tak laku, selalu ia bagikan kepada tetangganya, sampai akhirnya sekarang, jualan tak lagi ada sisa, sellau habis terjual.
Cerita ini disampaikan kurnia, demikian kami menyebutnya dalam sebuah acara seminar yang diselengarakan oleh Dompet Dhuafa Kaltim. Sejenak tentang Kurnia Sutanto (40) yang berkelahiran di Bandung dan beretnis China. Sebagai pimpinan sebuah Bank swasta tentunya menjadi prestise tersendiri apalagi fasilitas sangat menunjang untuk itu, namun tidak bagi Kurnia, setelah jabatan itu ditinggalkan dan berbagai fasilitas ditanggalkan apa yang dapat membuat orang berdecak kini tak dirasakannya, tak dipungkiri yang tadinya membuat orang selalu merunduk dan manggut-manggut sekaranglah waktunya untuk dapat menilai orang dengan sebenarnya nilai yang harus diberikan.
Dikala jabatan disandang, orang berdatangan. Dikala fasilitas terhampar orang-orangpun membuka tangan dengan lebar. Baru sampai tangga saja sudah disapa dan jabatan tangan yang erat sekali seolah tak mau lepas ”selamat siang Pak…Bagaimana Khabar hari ini”. Namun ketika orang yang sama bertemu muka dan melihat Kurnia yang sedang ’on duty’ di mobil pick- up bertopi dengan spanduk membentang disisi-sisi mobilnya dan menjual bubur…jangankan berjabat tangan erat…melihatpun mereka tak mau dan malah membuang muka.
Namun waktu menorehkan sejarah lain baginya. Dia harus berhenti sebagai penentu kebijakan Cabang Bank swasta tersebut dan harus menuai realitas. Akhirnya jiwa dagang yang dimilikinya harus ’dikeluarkan’ untuk menyambung hidup dan keinginannya. Mulailah aksinya dipinggir jalan, berteman dengan preman dan tukang parkir. Dia mulai menelisik apa yang dapat menjadikan usaha yang berkah baik bagi dirinya dan keluarga maupun bagi orang lain. Akhirnya dengan keahlian masak istrinya dia membuka warung yang menjual makanan dan dia namai ”Bubur ayam Bandung ’Kartika’”, nama itu dia ambil dari makanan daerah asalnya sekaligus nama anaknya, Kartika. Warungnya dapat dijumpai di Balikpapan di daerah dekat pasar Klandasan dan Tenda di Pasar Baru. Ada pula yang di daerah Samarinda yang dikelola oleh adiknya.
Suatu saat Kurnia diundang untuk memberikan testimoni di acara yang diselenggarakan Dompet Dhuafa Kaltim ”seminar Spiritual & Financial Healing”. Di acara tersebut dia memaparkan kiat berbisnis yaitu berdagang bubur ayam, walaupun dia beragama non-muslim tapi dalam kehidupan sehari-hari telah menerapkan kaidah Islam, baik dalam berkeluarga maupun bekerja dan berdagang bahkan karyawannya hampir semua muslim artinya dia sangat menghormati pembeli yang sebagian besar muslim. Mulai dari cara mendapatkan bahan masakan sampai cara pengolahannya dilakukan oleh karyawannya dengan cara-cara muslim bahkan sekarang baru tahap proses untuk memperoleh sertifikasi halal dari MUI untuk masakannya.
Tausiah Ustadz Yusuf Mansur dalam seminar tersebut menggugah hatinya untuk semakin memantapkan kenyakinannya bahwa ia harus berbuat sesuatu untuk sesama, dia sadar bahwa dia bukan muslim namun untuk berbuat baik tidak ada pagar yang membatasi, untuk menolong sesama tidak perduli dari golongan apa, dari agama mana, dari suku apa. Itulah prinsip yang dijalaninya. Bahwa berkah akan selalu ada dan keyakinan itu membuat dia tetap bersemangat menolong sesama dan positif thinking membuat dia selalu bersih hati serta terhindar dari segala yang menghalangi untuk menjatuhkan usahanya.
Jalan untuk mewujudkan demi menolong sesama salah satunya dia lakukan adalah dengan mengajak kerjasama Dompet Dhuafa Kaltim dalam program ’Sedekah Keberkahan’ yaitu setiap porsi yang terjual disumbangkan melalui Dompet Dhuafa kaltim sebesar Rp. 150,-. Database donatur Dompet Dhuafa Kaltim mencatat perolehan pertama dari program tersebut diluar yang dibayangkan jumlahnya hampir satu juta, itu artinya porsi yang telah terjual jauh lebih banyak dibandingkan sebelum ia berniat bersedekah. Subhanallah….bukan bermaksud gambling…namun kepercayaan akan berkah sedekah telah dimilikinya, bahwa rezeki ada yang ngatur itu benar, keyakinannya bahwa kalau kita memberi maka Allah akan melipat gandakan balasannya telah diperoleh buktinya.
Kini, Kurnia Sutanto bukan hanya pedagang namun juga telah dipercaya kembali memimpin sebuah Bank swasta di Balikpapan bahkan diluar yang dibayangkan, gedung Bank yang megah dan fasilitas yang didapat melebihi dari Bank yang ia pimpin sebelumnya. Walau demikian, jiwa yang matang dan pikiran serta hati yang bersih membuat semakin memburai cahaya dari dalam yang tampak dari muka dan bibirnya yang selalu dihiasi dengan senyum menatap masa depan gemilang.
Boleh panggil Ayah…….?? May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.comments closed
“Ayah …. minggu besok aku ulang tahun lho, aku ingin ajak teman-temanku merayakannya di sekolah, seperti yang kemarin dilakukan oleh Yanti” ujar putriku. “Ramai deh … ada sulap ada penyani ciliknya dan masing-masing diberi tas ransel yang ada diisi kue dan makan kecil yang lainnya”. Aku memandang wajah putri kecilku, membayangkan keinginannya yang demikian kuat.
“Cantik….” Kataku lembut sambil mendekapnya perlahan-lahan. “kamu ingin ulang tahun dirayakan di sekolah memangnya kenapa, kenapa tidak dirumah aja seperti biasa”
“Iya… aku ingin juga dirayakan di sekolah bersama teman-teman terus kasih hadiah ke teman-teman, aku malu ayah kalau ngak dirayain di sekolah” ujarnya.
“Malu, ? dengan siapa ? dan kenapa harus malu” tanyaku lebih dalam lagi sambil memeluknya lebih erat lagi. “Malu sama teman-teman yang lain terutama sama yanti, yah, masak dia bisa merayakan ulang tahun di sekolah, aku enggak bisa”.
“Gimana kalau ulang tahunnya, kita rayakan bersama anak-anak yatim, seperti yang diajarkan oleh bapak ustadz” kataku merayu.
”Iya deh pa, tapi aku boleh ya ajak teman-temanku juga hadir ya” jawab soraya sambil bergelayut di kedua tanganku.
”Boleh… papa senang kok, ajak juga teman-teman yang lain, agar ramai”kata istriku.
Suasana ulang tahun Soraya anakku di Panti asuhan Raudathul Jannah benar benar meriah, semua tertawa gembira menyaksikan badut-badut yang memang sengaja diundang untuk meramaikan ulang tahun anakku yang hari itu merayakan ulang tahunnya yang keempat.
Tembok dan bangunan gedung panti asuhan itu belum banyak yang berubah, bahkan kini cat putih yang biasa menyelimuti gedung itu kini semakin bersih. Pohon mangga yang biasa kami jadikan tempat berteduh, sedang berbuah lebat sekali. Wajah ustadz Ahmad pemilik panti, yang bersih kini semakin terlihat bersinar walau rambutnya mulai ditumbuhi rambut putih menyeluruh di rambutnya.
Ingatanku menerawang menembus kuat sekali pada kembali pada masa-masa ketika aku di rumah yatim piatu ini 25 tahun yang lalu.Aku teringat kecerian dan kegembiraan bersama teman-teman ketika mendengar akan ada orang kaya yang ingin berulang tahun di panti asuhan dimana aku tinggal, karena itu berarti kami bisa makan enak, bisa dapat kado, bisa bernyanyi bersama. Aku tersenyum kecil, malu rasanya mengingat hal itu.
Di panti, dulu aku dikenal sebagai anak nakal, karena selepas mengaji setiap magrib, aku tak langsung belajar, melainkan nonton TV dirumah Anton teman sekolahku yang juga tetangga panti, bahkan seringkali aku harus pulang berjingkat-jingkat agar tak ketahuan Bapak ust. Ahmad, karena jika terlihat aku pulang dari menonton, aku bakal harus menulis berulang-ulang “saya ingin belajar agar bisa sukses” hingga seratus kali dan besoknya selepas subuh masih harus menimba air bak mandi. Aku tahu Abah Ahmad demikian sekarang anak-anak santri menyebutnya tak menyangka aku hadir lagi disini bahkan dengan keluargaku. Ia telah menyaksikan aku sukses. Ini pasti juga karena do’a do’a yang ia panjatkan setiap kami selesai sholat lima waktu.
“Ayah…., kapan lilinnya ditiup, aku sudah tidak sabar lagi nich” ujar soraya mengejutkan aku, sambil bergelayut manja, di bahu tanganku. Tangannya yang mungil itu mulai mengelus-elus janggut tipisku.
“Oh ya, sekarang aja kita mulai” ujarku sambil mengajak ustadz Ahmad mendekat. “kita akan mulai acara ini dengan sama-sama membaca basmalah” kataku lagi. Aku aku jelaskan kehadiranku di yayasan yatim piatu ini, sementara soraya sudah mulai mendekati kue tar, ia ingin segera mungkin meniup lilin. “selanjutnya adalah do’a untuk soraya, yang akan dipimpin oleh ustadz Ahmad”
“Anak-anaku sekalian, bergembiralah, hari ini ada saudara kita yang berulang tahun, soraya putri pak Budi ini berulang tahun dan memilih tempat di rumah kita. Mengapa demikian, karena beliau dahulu juga seperti kalian, pernah tinggal di rumah ini, ia ingin kembali mengenang masa-masa dulu. Dan alhamdulilah kini beliau telah sukses hidupnya bahkan kini ia bekerja pada sebuah bank asing terkenal di Indonesia” tutur pak ahmad perlahan, suaranya makin lama makin mengecil.
“Mari kita do’akan juga semoga soraya menjadi anak yang berbakti pada orangtuanya, menjadi anak yang solehah, dan sesukses ayah dan ibunya, amin. Anak-anakku, kalian bisa seperti pak budi jika kalian belajar dengan tekun dan bekerja dengan cerdas, bukan demikian nak budi” katanya sambil menoleh kearahku. Aku tak menyangka bakal ada pertanyaan seperti itu hanya dapat mengangguk perlahan. Semua mata memandang kearahku. Akhirnya acara berdoapun selesai. Soraya menyegarakan meniup lilin sementara istriku menyiapkan makanan dan membagi-bagikan kado dibantu badut-badut dari perusahaan restoran terkenal tempat ia bekerja. Semua nampak bergembira.
Namun di sudut lain dekat pintu masuk ruangan pertemuan itu, aku melihat tatapan kosong dari pancaran mata anak kecil yang sedari tadi terdiam. Ia tampak tak segembira rekan-rekan lainnya, kalaupun bertepuk tangan seperti tak semangat. Seperti tak punya api kehidupan, bahkan Tiba-tiba, terlihat olehku, mata anak kecil itu semakin meleleh, kian deras.
Perlahan aku bergeser mendekatinya, kusaksikan bulir-bulir air bening mulai menetes di sela-sela pelupuk mata. “Nama Kamu siapa dan kenapa menangis? “tanyaku. Ia terdiam. Menatapku dalam-dalam. Kepalanya tertunduk, lalu berkata “Saya Ita om… boleh nggak aku minta sesuatu” katanya perlahan
””Boleh…. Ita minta apa sayang” katanya perlahan
”Tapi om nggak marah dan mau memenuhi permintaan Ita” tanyanya lagi.
”Ngak… om ngak akan marah, memang Ita minta apa sih, Ita mau tas sekolah ya” tanyaku lagi
”Om benar ngak akan marah” tanyanya lagi sambil menatap wajahku
”tidak…. om tidak akan marah, om mau dengar kamu mau minta apa sih” kataku lagi.
”Om…. Ita mau panggil om ayah, Ita ingin punya ayah” katanya perlahan.”Ita ingin seperti soraya yang juga punya Bapak, punya Ibu, yang mau menemani ita kalau ambil raport seperti teman-teman ita yang lain” lanjutnya lagi.
“lho ita khan sudah punya ustadz ahmad di rumah ini”. Ia mengeleng-gelangkan kepala…. “maksud ita bukan itu om. Ita ingin punya Bapak” ujarnya perlahan nyaris tak terdengar.
“Om ….. boleh khan kalau ita panggil bapak” katanya sambil menatap mataku. Seperti tersengat listrik mendengar ungkapan itu. Aku tak menyangka sama sekali bahwa ia akan meminta itu kepadaku. Tatapan matanya meminta persetujuanku. Aku tak kuasa berdiri, seluruh persendian itu tiba-tiba terasa lepas, aku langsung bersujud, kupeluk anak kecil itu, sementara Soraya anakku menyaksikan semua. Dekapan itu begitu erat seperti tak ingin terlepas sebentar sekalipun. Jari-jari yang mungil semakin keras mencengkram pundakku. Aku jadi teringat cengkaraman anakku kalau ia marah jika tak jadi kubelikan kue kesayangannya. Ach….. sekeras apapun cengkaraman itu tak terasa sakit sama sekali, bahkan yang kurasakan adalah kehangatan.
Isak tangis itupun perlaha-lahan berhenti. Ita mulai merenggangkan dekapannya. Akupun perlahan mulai memegang pundaknya. Seraya menatap wajah anak itu. Ita tersenyum, bahagian sekali. Aku pun demikian. Sementara soraya anakku semakin mendekat, lalu aku dekapkan keduanya di dadaku dalam-dalam. Semua menangis haru.
Bisikan yang menggoda May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.comments closed
Pagi itu jam belajar dimulai dengan olah raga , teman –teman Ayu terlihat senang , hari ini Pak Yoga guru olah raga mengajak kami sekelas lomba kasti. Tapi perasaan senang itu tak dapat dinikmati Ayu ,sedih saja hari ini yang Ayu rasakan. Tadi pagi Ayu kecewa pada ayahnya , ia tak mendapatkan uang saku yang diminta sebesar Rp20.000,- ayahnya hanya bilang “Terlalu besar uang sebesar itu untuk anak SD seusiamu”!. Ayah hanya memberi Ayu Rp3000,- .Hati Ayu mengatakan , “ Ini kan hanya cukup beli permen…”!.
Ayu benar-benar tak ingin tersenyum pada semua orang hari ini. Ayahnya tak pernah dapat memahami kebutuhannya, tidak seperti ibunya. Ayu coba mengingat kejadian (more…)
Rp 50.000, yang menyelamatkan May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.comments closed
Sore itu, saya gembira betul telah berhasil menyelesaikan bahan-bahan tulisan untuk majalah komunitas kurban yang kebetulan harus saya selesaikan di Yogyakarta. Puas rasanya setelah beberapa hari ini kami bersama dengan teman-teman menyelesaikan tugas itu dengan sempurna, Siang malam kami menyelesaikan desain dan tulisan bergantian.
Setelah berpamitan dengan temen-teman yang membantu desain majalah tersebut, sayapun diantar menuju bandara, dan masya Allah…. waktu tinggal satu jam lagi untuk chek in di bandara, sementara telepon agen pesawat sibuk terus, padahal perjalanan ke bandara masih membutuhkan waktu 30 menit lagi. Hati saya berdebar-debar…. khawatir tak cukup waktu. (more…)
Tempurung buat Ibu May 31, 2008
Posted by demasproduction in Uncategorized.comments closed
Hasan, tinggal bersama ibunya sejak ayahnya meninggal. Mereka tinggal di desa jauh dari kota. Hasan kecil dibesarkan hingga meraih gelar sarjana. Untuk membiayai anak semata wayangnya itu, siang malam ibunya membanting tulang seorang diri, semuanya dijalani demi cintanya kepada anaknya dan janji setia kepada suaminya. Cincin pernikahan sebagai harta berharga satu-satunya, terpaksa ia jual, ketika Hasan kecil mengalami sakit panas yang amat tinggi. (more…)
