<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Demas Productions</title>
	<atom:link href="http://demasproduction.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://demasproduction.wordpress.com</link>
	<description>Event Organizer yang creative, atraktif dan inovatif</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Jun 2008 17:41:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='demasproduction.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Demas Productions</title>
		<link>http://demasproduction.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://demasproduction.wordpress.com/osd.xml" title="Demas Productions" />
	<atom:link rel='hub' href='http://demasproduction.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Uji Nyali Menuju Taubatan Nasuha</title>
		<link>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/uji-nyali-menuju-taubatan-nasuha/</link>
		<comments>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/uji-nyali-menuju-taubatan-nasuha/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 18:04:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>demasproduction</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demasproduction.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Pada sore di masjid At-Taqwa di bilangan Klandasan, Balikpapan. Usai sholat ’asar para jamaah yang sebagian besar pedagang keliling, merebahkan badan, meluruskan punggung sejenak, rehat setelah keliling kota menjajakan dagangannya. Begitu juga karyawan perusahaan sekitar masjid. Sambil menunggu bedug Maghrib terlihat seorang pria dengan pakaian sederhana yang warnanya sudah memudar tampak pakaian itu dicuci-pakai, wajahnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=60&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada sore di masjid At-Taqwa di bilangan Klandasan, Balikpapan. Usai sholat ’asar para jamaah yang sebagian besar pedagang keliling, merebahkan badan, meluruskan punggung sejenak, rehat setelah keliling kota menjajakan dagangannya. Begitu juga karyawan perusahaan sekitar masjid. Sambil menunggu bedug Maghrib terlihat seorang pria dengan pakaian sederhana yang warnanya sudah memudar tampak pakaian itu dicuci-pakai, wajahnya layu dan badannya kurus seperti kurang tidur dan makan, terlihat khusu’ berdoa memohon Sang Khalik tak hentinya ketika semua jamaah telah berebah dan ngobrol.<span id="more-60"></span></p>
<p>Tak lama kemudian lelaki itu beranjak, di bawah kubah masjid menyapa seorang ustadz, setelah berkenalan ternyata mereka asyik ngobrol dan mulailah bercerita si lelaki itu tentang kedatangannya di kota ini, sekian lama mencari pekerjaan tak kunjung dapat, ’nomaden’ menjadi pilihan, dari masjid satu ke masjid yang lain. Suatu kali dia tinggal selama sebulan di masjid satu ternyata petugas masjid harus mengusirnya karena akan menjadi beban masjid kemudian berpindah di masjid At-Taqwa ini, bahwa kalau malam masjid ditutup dan tidak boleh untuk tidur karena dikhawatirkan pengurus masjid akan mengganggu kekusyukan jamaah yang beribadah disebabkan mungkin ada bau yang tertinggal di karpet masjid.</p>
<p>Maka lelaki itu harus tidur di teras masjid bersama dengan gelandangan yang lain hanya dengan beralas karton atau kertas koran bekas, dini hari udara terasa begitu menggigit, terdengar gigi gemeretak seolah mau lepas dari gusi saking dinginnya ditambah lagi hujan turun begitu deras tak perduli yang tidur tanpa selimut juga menjadi bagian dari air yang turun dari langit.</p>
<p>Ustadz itu terkulai lemah mendengarkan lelaki itu bertutur, tatapan kosong seolah menelisik kedalam kelopak mata lelaki yang cekung, lalu berkata ”aku tak bisa membantu, namun ada sedikit uang di kantongku”, setelah tangannya merogoh kantong celana dikeluarkanlah uang kertas dengan nilai Rp. 5.000,- ”ini buat kamu, sedekah dariku, terimalah” ujar ustadz. Dengan gemetar tangan lelaki itu menerima uang yang sudah lama tak ada di kantongnya.</p>
<p>Akhirnya sang ustadz harus pergi karena sudah ada jadual mengaji, terpikir oleh lukman tentang teman yang selama ini menolongnya. Kemudian dengan langkah gontai di menuju rumah kontrakan temannya, Ujrah.</p>
<p>Sesampai di tempat Ujrah, ”Assalamu’alaikum” teriak Lukman dari luar kamar Ujrah, ”alaikumussalam&#8230;.masuk Man”. Bercengkerama mereka melepas kangen yang selama ini dipendam, tiba-tiba perut Ujrah berbunyi ”kruk” begitu nyaringnya hingga membuat mereka tertawa terbahak, akhirnya Lukman menawarkan makan malam bersama karena dilihat Ujrah telah berpuasa selama 3 hari ini disebabkan tanggal gajian belum kunjung tiba.</p>
<p>Lukman bergegas keluar membeli sebungkus nasi goreng di pinggir jalan dengan uang pemberian ustadz tadi. Tak banyak dan lama berpikir, walaupun selama ini dia juga harus menjalani seperti yang dilakukan Ujrah, kalau Ujrah sudah tiga hari tak makan, Lukman lebih lama dari yang dilakukan Ujrah.<br />
Tak lama kemudian ia telah membawa bungkusan nasi goreng, Teman yang dari dulu telah membantunya selama di kota ini karena merasa terlalu sering merepotkan maka lelaki ini memilih tidak bergabung dengan temannya itu walaupun harus berbohong telah dapat kontrakan untuk tempat tinggal.</p>
<p>Ternyata temannya belum memperoleh gaji dan sudah dua hari ini harus makan sekali sehari, maka lelaki ini yang telah diberi sedekah oleh ustadz datang dan makan bersama nasi goreng sebungkus berdua. Entah apa yang terlintas di pikiran lelaki itu bahwa sebungkus nasi ini baru ia dapatkan dan tak tahu besok dia akan makan apa dan dapat uang dari mana. Namun hanya keyakinannya Allah pasti akan membagi rezeki padanya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/demasproduction.wordpress.com/60/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/demasproduction.wordpress.com/60/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demasproduction.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demasproduction.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demasproduction.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demasproduction.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demasproduction.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demasproduction.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demasproduction.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demasproduction.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demasproduction.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demasproduction.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demasproduction.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demasproduction.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demasproduction.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demasproduction.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=60&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/uji-nyali-menuju-taubatan-nasuha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a14b505176ec1c1f2e619a9539ce4e93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">demasproduction</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sedekah yang membekas</title>
		<link>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/sedekah-yang-membekas/</link>
		<comments>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/sedekah-yang-membekas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 18:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>demasproduction</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demasproduction.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Pada sore di masjid At-Taqwa di bilangan Klandasan, Balikpapan. Usai sholat ’asar para jamaah yang sebagian besar pedagang keliling, merebahkan badan, meluruskan punggung sejenak, rehat setelah keliling kota menjajakan dagangannya. Begitu juga karyawan perusahaan sekitar masjid. Sambil menunggu bedug Maghrib terlihat seorang pria dengan pakaian sederhana yang warnanya sudah memudar tampak pakaian itu dicuci-pakai, wajahnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=59&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada sore di masjid At-Taqwa di bilangan Klandasan, Balikpapan. Usai sholat ’asar para jamaah yang sebagian besar pedagang keliling, merebahkan badan, meluruskan punggung sejenak, rehat setelah keliling kota menjajakan dagangannya. Begitu juga karyawan perusahaan sekitar masjid. Sambil menunggu bedug Maghrib terlihat seorang pria dengan pakaian sederhana yang warnanya sudah memudar tampak pakaian itu dicuci-pakai, wajahnya layu dan badannya kurus seperti kurang tidur dan makan, terlihat khusu’ berdoa memohon Sang Khalik tak hentinya ketika semua jamaah telah berebah dan ngobrol.<span id="more-59"></span></p>
<p>Tak lama kemudian lelaki itu beranjak, di bawah kubah masjid menyapa seorang ustadz, setelah berkenalan ternyata mereka asyik ngobrol dan mulailah bercerita si lelaki itu tentang kedatangannya di kota ini, sekian lama mencari pekerjaan tak kunjung dapat, ’nomaden’ menjadi pilihan, dari masjid satu ke masjid yang lain. Suatu kali dia tinggal selama sebulan di masjid satu ternyata petugas masjid harus mengusirnya karena akan menjadi beban masjid kemudian berpindah di masjid At-Taqwa ini, bahwa kalau malam masjid ditutup dan tidak boleh untuk tidur karena dikhawatirkan pengurus masjid akan mengganggu kekusyukan jamaah yang beribadah disebabkan mungkin ada bau yang tertinggal di karpet masjid.</p>
<p>Maka lelaki itu harus tidur di teras masjid bersama dengan gelandangan yang lain hanya dengan beralas karton atau kertas koran bekas, dini hari udara terasa begitu menggigit, terdengar gigi gemeretak seolah mau lepas dari gusi saking dinginnya ditambah lagi hujan turun begitu deras tak perduli yang tidur tanpa selimut juga menjadi bagian dari air yang turun dari langit.</p>
<p>Ustadz itu terkulai lemah mendengarkan lelaki itu bertutur, tatapan kosong seolah menelisik kedalam kelopak mata lelaki yang cekung, lalu berkata ”aku tak bisa membantu, namun ada sedikit uang di kantongku”, setelah tangannya merogoh kantong celana dikeluarkanlah uang kertas dengan nilai Rp. 5.000,- ”ini buat kamu, sedekah dariku, terimalah” ujar ustadz. Dengan gemetar tangan lelaki itu menerima uang yang sudah lama tak ada di kantongnya.</p>
<p>Akhirnya sang ustadz harus pergi karena sudah ada jadual mengaji, terpikir oleh lukman tentang teman yang selama ini menolongnya. Kemudian dengan langkah gontai di menuju rumah kontrakan temannya, Ujrah.</p>
<p>Sesampai di tempat Ujrah, ”Assalamu’alaikum” teriak Lukman dari luar kamar Ujrah, ”alaikumussalam&#8230;.masuk Man”. Bercengkerama mereka melepas kangen yang selama ini dipendam, tiba-tiba perut Ujrah berbunyi ”kruk” begitu nyaringnya hingga membuat mereka tertawa terbahak, akhirnya Lukman menawarkan makan malam bersama karena dilihat Ujrah telah berpuasa selama 3 hari ini disebabkan tanggal gajian belum kunjung tiba.</p>
<p>Lukman bergegas keluar membeli sebungkus nasi goreng di pinggir jalan dengan uang pemberian ustadz tadi. Tak banyak dan lama berpikir, walaupun selama ini dia juga harus menjalani seperti yang dilakukan Ujrah, kalau Ujrah sudah tiga hari tak makan, Lukman lebih lama dari yang dilakukan Ujrah.<br />
Tak lama kemudian ia telah membawa bungkusan nasi goreng, Teman yang dari dulu telah membantunya selama di kota ini karena merasa terlalu sering merepotkan maka lelaki ini memilih tidak bergabung dengan temannya itu walaupun harus berbohong telah dapat kontrakan untuk tempat tinggal.</p>
<p>Ternyata temannya belum memperoleh gaji dan sudah dua hari ini harus makan sekali sehari, maka lelaki ini yang telah diberi sedekah oleh ustadz datang dan makan bersama nasi goreng sebungkus berdua. Entah apa yang terlintas di pikiran lelaki itu bahwa sebungkus nasi ini baru ia dapatkan dan tak tahu besok dia akan makan apa dan dapat uang dari mana. Namun hanya keyakinannya Allah pasti akan membagi rezeki padanya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/demasproduction.wordpress.com/59/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/demasproduction.wordpress.com/59/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demasproduction.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demasproduction.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demasproduction.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demasproduction.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demasproduction.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demasproduction.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demasproduction.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demasproduction.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demasproduction.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demasproduction.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demasproduction.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demasproduction.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demasproduction.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demasproduction.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=59&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/sedekah-yang-membekas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a14b505176ec1c1f2e619a9539ce4e93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">demasproduction</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pejuang Masa Kini</title>
		<link>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/pejuang-masa-kini/</link>
		<comments>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/pejuang-masa-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 18:01:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>demasproduction</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demasproduction.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Kemeriahan di setiap sudut pemukiman penduduk selalu terlihat ketika menyambut hari kemerdekaan RI. Tidak tanggung-tanggung selama satu bulan penuh selalu diwarnai oleh aneka kegiatan yang sifatnya hiburan rakyat. Adat kebiasaan masyarakat di malam tanggal 17 Agustus biasanya diadakan tirakatan, sebuah acara renungan untuk mengenang kembali perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Entah itu berupa pembacaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=58&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemeriahan di setiap sudut pemukiman penduduk selalu terlihat ketika menyambut hari kemerdekaan RI. Tidak tanggung-tanggung selama satu bulan penuh selalu diwarnai oleh aneka kegiatan yang sifatnya hiburan rakyat. Adat kebiasaan masyarakat di malam tanggal 17 Agustus biasanya diadakan tirakatan, sebuah acara renungan untuk mengenang kembali perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Entah itu berupa pembacaan puisi ataupun mendengarkan cerita kembali tentang perjuangan di masa lalu oleh sang mbah veteran perang.<span id="more-58"></span></p>
<p>Semua itu seolah menutup makna perjuangan yang sesungguhnya bahwa kemerdekaan yang yang dicapai oleh para pejuang terdahulu adalah untuk mensejahterakan masyarakat. Memerdekakan setiap individu untuk mendapatkan hak-hak hidup mereka sebagai warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang murah namun berkualitas, kesehatan yang dapat dijangkau.</p>
<p>Namun kenyataan yang ada seolah cita-cita kemerdekaan itu jauh panggang dari api. Kemandirin bangsa untuk mengelola sendiri kekayaan alammnya sendiri tak mampu. Bagaimana mau dikatakan mandiri kalau aset beberapa industri strategis milik bangsa dikuasai oleh pihak asing. Kekayaan alam kita habis dikeruk oleh pihak asing lewat yang namanya kontrak karya ataupun kontrak bagi hasil, tanpa peduli lagi dengan konservasi alam.</p>
<p>Lantas apa sih yang harus diperjuangkan oleh para pejuang ini, utamanya terhadap si miskin? tak muluk sebenarnya yang mereka minta. Ingat kebutuhan dasar manusia itu ada lima hal, yaitu : sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan. Kelima sektor inilah yang merupakan ajang para pejuang untuk bisa membaktikan dirinya. Satu hal lagi yang paling penting dan merupakan pondasi dari kelima faktor tersebut adalah ekonomi. Ekonomi-lah yang mengubah si miskin menjadi memiliki kekuatan untuk bisa terangkat harkat dan martabatnya. Umpan dapat diberikan sekali saja, tapi setelah itu harus diberikan kail. Bagi yang tak bisa menggunakan kail, berilah pelatihan-pelatihan. Ibarat roda bisa berputar dan berjalan jika ada jalan atau rute yang akan dilalui, maka ekonomi pun demikian halnya. Agar ekonomi bisa berjalan butuh sarana infrastruktur yang mendukung. Nah ! tugas para pejuang inilah yang harus membantu dan membangun berbagai infrastruktur pendukung ekonomi kaum lemah, entah itu berupa akses pasar, akses pembiayaan ataupun bantuan informasi teknis terkait masalah produksi. Hal seperti inilah yang baru diperjuangkan oleh beberapa gelintir pejuang saja. Tanpa bermaksud bersikap pesimistis, mengurusi orang-orang miskin ini bukanlah sebuah pekerjaan yang mendatangkan profit, hingga jarang pejuang yang terjun di bidang yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat miskin.</p>
<p>Pejuang-pejuang masa kini tidak lagi bersenjatakan bambu runcing ataupun bedil. Modal pejuang masa kini bisa berupa pulpen, kertas, dan kecerdasan otak. Pejuang-pejuang masa kini tidak lagi berperang di medan perang, melainkan di kelas-kelas, di ruang rapat, dan bahkan di rumah sakit. Ya! ada pejuang di bidang pendidikan, pejuang di bidang ekonomi, pejuang kesehatan dan masih banyak lagi.</p>
<p>Segelintir “pejuang” di masa kini sudah mulai tergoda dengan manisnya dunia. Tak dapat dipungkiri, sekarang ini ada pejuang-pejuang yang sedang berada “diatas” dan “basah” lagi. Siapa yang tak tahan godaan berupa fulus dan berbagai fasilitas mewah lainnya. Nikmat dunia seolah melenakan para pejuang itu di dalam zona nyaman dunia. Sakingnya nyamannya, mereka enggan di suruh gantian dengan generasi penerusnya. Bahkan kalau mungkin bisa dibawa selamanya. Alibi yang bernama otonomi daerah seolah menjadi justifikasi munculnya raja-raja baru di daerah. Kalau sudah begini jadinya, tentu ada yang menjadi tumbal. Ya ! siapa lagi kalau bukan rakyat miskin. Atas nama rakyat pula mereka para pejuang sering berkoar-koar. Ah ! yang penting kan retorikanya nyampe ke rakyat, masalah kapan janji akan ditepati itu urusan nanti, bahkan kalau perlu dilaksanakan ketika akan pilihan lagi. Entah karena sistem ataukah sudah menjadi budaya yang menjadikan mereka begitu rakus akan nyamannya dunia. Tak dapat lagi dibedakan antara pejuang rakyat ataukah penindas rakyat. Seperti inikah yang kita inginkan, tentu tidak bukan.</p>
<p>Berjuang artinya berani mengorbankan kepentingan pribadi untuk kemashlahatan yang lebih besar. Apa balasannya bagi mereka ? Allah SWT sudah menjanjikan balasan berupa naungan di hari kiamat nanti, abstrak memang tapi inilah janji Allah SWT. Sikap mental bangsa yang ingin cepat menikmati hasil dan selalu ingin mengambil jalan pintas harus segera dihilangkan. Caranya lewat suri tauladan para pejuang tadi. Jadi yang digugu dan ditiru tidaklah harus guru, tapi juga semua orang yang telah berbuat banyak bagi masyarakat. Kalaulah ia pejabat, maka kebijakan yang diambilnya tidak akan menyengsarakan masyarakat luas. Kalaulah ia pimpinan di sebuah perusahaan keputusan yang diambilnya bukanlah untuk kepentingan dan memperkaya diri sendiri. Karena sesungguhnya yang terbaik bagi ia adalah memberikan sebanyak-banyaknya manfaat buat orang lain. Ingat perjuangan bangsa masih panjang, siapkah kita menjadi bagiannya ?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/demasproduction.wordpress.com/58/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/demasproduction.wordpress.com/58/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demasproduction.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demasproduction.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demasproduction.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demasproduction.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demasproduction.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demasproduction.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demasproduction.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demasproduction.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demasproduction.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demasproduction.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demasproduction.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demasproduction.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demasproduction.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demasproduction.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=58&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/pejuang-masa-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a14b505176ec1c1f2e619a9539ce4e93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">demasproduction</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka lebih membutuhkan</title>
		<link>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/mereka-lebih-membutuhkan/</link>
		<comments>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/mereka-lebih-membutuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 17:59:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>demasproduction</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demasproduction.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu, bersama teman-teman sedang mengadakan pelatihan bersama BNI Syariah di kota Solo, tiba tiba gedung tempat kami menyelenggarkan pelatihan bergetar perlahan namun lama-lama semakin keras. Semua orang panic berlarian menuju tangga darurat hotel. Gempa… gempa…… demikian orang berteriak mengingatkan yang lain agar keluar dari gedung. Tak berapa lama berselang ditengah acara pelatihan, saya dikejutkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=57&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi itu, bersama teman-teman sedang mengadakan pelatihan bersama BNI Syariah di kota Solo, tiba tiba gedung tempat kami menyelenggarkan pelatihan bergetar perlahan namun lama-lama semakin keras. Semua orang panic berlarian menuju tangga darurat hotel. Gempa… gempa…… demikian orang berteriak mengingatkan yang lain agar keluar dari gedung.</p>
<p>Tak berapa lama berselang ditengah acara pelatihan, saya dikejutkan dengan telpon yang mengatakan bahwa Yogya dilanda gempa dan saya diminta untuk tidak pulang terlebih dahulu ke Jakarta, saya diminta untuk menjadi tim awal yang mempersiapkan tim Dompet Dhuafa Republika mengirimkan bantuan ke kota Gudeg tersebut. <span id="more-57"></span>Kami berlima saling memandang, wah baju yang dibawa Cuma untuk 2 hari nih, apalagi yang satu baju batik. Masak datang ke lokasi bencana pakai batik. Namun saya minta teman-teman tetap harus ke Yogya sesegara mungkin, selesai pelatihan harus segera berangkat ke Yogya. Isi pulsa ke handphone masing-masing untuk mengabari keluarga bahwa ngak jadi pulang sore ini, karena harus ke Yogya. Untungnya semua istri-istri mereka memahami tugas ini, paling Cuma istrinya Asep aja yang agak sulit menjelaskan, Maklum pengantin baru,</p>
<p>Sepanjang jalan dari kota solo, begitu memasuki kota klaten, mulai terasa akibat gempa yang tadi pagi kita rasakan tersebut. Banyak rumah-rumah yang hancur rata dengan tanah. Tapi kami terus melanjutkan perjalanan, karena tujuan kami adalah kota kota yogya, kota yang dalam berita radio dan SMS yang saya terima kota terparah. Memasuki kota Yogya, nampak gedung-gedung yang retak-retak, beberapa nampak ingin rubuh.</p>
<p>Setiba di kota Yogya, suasana gempa semakin terasa, dari radio aku mendengar jumlah korban terus bertambah dari jam ke jam. Saya laporkan terus kejadian ini ke Jakarta dan meminta agar mereka buka dompet bencana. Bersama dengan mitra yang ada di Yogya, malam itu kami mengatur strategi agar kita bisa sesegaera mungkin mendistribusikan bantuan.</p>
<p>Kami berencana membagikan makanan segera dan berbagai kebutuhan hdup lainnya esok pagi, pagi sekali, namun malam itu, tak satupun pasar yang buka, jadi kami kharus berbelanja di Purworejo dann kota lainya di sekitar Yogya. Malam itu akhirnya saya dan teman-teman bermalam di halaman parkir kantor mitra Dompet Dhuafa. Padahal magrib tadi sempat memesan kamar di hotel. Kami tak tega sementara banyak pengungsi khawatir dengan gempa susulan, kami enak-enak tidur di hotel.</p>
<p>Pagi itu akhirnya kami berhasil memasak untuk beberapa ratus makanan siap saji dan ratusan kardus mie instan. Yang siap dibagikan kepada para pengungsi. Banyaknya pengungi membuat kami kesulitan membagi. Namun kami menemukan sekumpulan mbah-mbah yang berkumpul sambil menatap bantuan yang kami bawa. Nampak gembira betul mereka menatap kami. Aklhirnya kami putruskan untuk membagikan banyuan tersebt kepada mereka. Satu persatu bantuna diberikan. Aku yang terkahir memberikan mendatangi mbah yang sedari tadi memegang terus kedua kakinya yang tertimpa potongan kayu. Namun ketika aku berikan bantuan tersebut, ia mengatakan saya sudah dapat…… yang disana saja yang belum, mereka lebih membutuhkan dari saya, saya sudah cukup dapat ini.</p>
<p>Bergetar hati saya mendengar omongan mbah ini, belum pernah dalam sejarah kami membagikan bantuan, orang menolak menerima bantuan, seringkalinya malah mereka yang sudah mendapatkan bantuan datang lagi untuk meminta. Kalupun tangan kanan sudah diberikan makan tangan krinya kan meminta lagi. Tapi kali ini saya diasadrkan akan pentingknya kesederhanaan. Kalau cukup dengan bantuan ala kadarnya mengapa harus menimbun bantuan. Saya malu … dan saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari kesederhanaan dan keasadaran untuk mendahulukan orang lain dan memuliakan orang lain.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/demasproduction.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/demasproduction.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demasproduction.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demasproduction.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demasproduction.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demasproduction.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demasproduction.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demasproduction.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demasproduction.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demasproduction.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demasproduction.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demasproduction.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demasproduction.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demasproduction.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demasproduction.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demasproduction.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=57&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/mereka-lebih-membutuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a14b505176ec1c1f2e619a9539ce4e93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">demasproduction</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjual handuk</title>
		<link>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/menjual-handuk/</link>
		<comments>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/menjual-handuk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 17:57:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>demasproduction</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demasproduction.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu kami baru saja siap-siap menyantap makanan yang disiapkan mbok iyem. Nasi goreng hangat, dengan telor dadar pastilah mengoda. Anak-anakku sangat menyukai sarapan pagi dengan nasi goreng dengan lauk telor dadar, semua nampak menyukuri akan makanan yang telah terhidang, Radhi putra ku yang terbesar memimpin doa makan, belum lagi satu suap aku mulai, Tiba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=56&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi itu kami baru saja siap-siap menyantap makanan yang disiapkan mbok iyem. Nasi goreng hangat, dengan telor dadar pastilah mengoda. Anak-anakku sangat menyukai sarapan pagi dengan nasi goreng dengan lauk telor dadar, semua nampak menyukuri akan makanan yang telah terhidang, Radhi putra ku yang terbesar memimpin doa makan, belum lagi satu suap aku mulai, Tiba tiba dari balik pintu pintu rumahku terdengar ada yang mengucapkan salam, “Assalaamu’alaaikum”.<span id="more-56"></span></p>
<p>“Waalaai’aikum salam warahhamtulah wa barakatuhu”jawabku sambil menyegerakan menghampiri suara tersebut. Rupanya Ibu rahma tetanggaku sudah berdiri mematung sambil menunduk kepalanya di disamping pintu pagar rumahku. Aku persilahkan ia masuk. Ia nampak ragu-ragu, ketika mengetahui kami sebenarnya sedang sarapan terlebih lagi ketika ia juga aku ajak duduk di meja makan.</p>
<p>Aku ambilkan piring di dapur rumahku yang kecil itu, menyerahkan piring kepadanya “Ayo sambil sarapan” ujarku sambil memberikan piring pada ibu rahma, ia hanya mengeleng perlahan.</p>
<p>“Anu bu, saya sebenarnya malu, tapi harus bagaimana lagi, saya perlu uang, sejak kemarin kami sekeluarga belum makan, saya perlu untuk makan hari ini, tapi saya malu pinjem lagi sama ibu, untuk itu saya mau jual handuk ini” katanya lamat-lamat.</p>
<p>“memangnya bapaknya anak-anak kemana bu rahma ? dan kenapa ibu jual handuk segala” tanya istriku.</p>
<p>“Itulah bu…. Sudah seminggu ini bapaknya anak-anak tidak dapat kerjaan, sudah kesana kemari mencari orang yang mau bikin bangunan engak-ada yang manggil-manggil. Maklumlah bu Cuma kuli bangunan, makanya saya pusing dan akhirnya saya kesini, saya mau jual handuk ini, 20 ribu saja” katanya sambil membuka bungkusan koran yang ia bawa dari tadi.</p>
<p>Aku tertegun, tadinya aku membayangkan handuk yang dimaksud adalah handuk baru, namun ternyata hanya handuk bekas yang selama ini ia pergunakan. Napsu makanku hilang dengan sendirinya. Aku membayangkan keluarga dengan 3 anak kecil belum makan seharian, sementara aku makan pagi ini. Ah… semuanya jadi hilang semangat.</p>
<p>Aku jadi terbayang ketika kemarin siang aku ditarktir makan oleh rekan kerjaku yang kebetulan bekerja di perusahaan minyak milik amerika, kami makan berlima di restorant yang berlamat di gedung sebuah bank ternama milik pemerintah di jalan sudirman, dari tagihan yang sempat aku lihat tercantum Rp. 2.116.800 rupiah. Gila bener, aku tertegun menyaksikan angka sedasyat itu hanya untuk kami makan berlima.  Sementara pagi ini aku menyaksikan tetanggaku tak dapat menanak nasi untuk makan anak-anaknya.</p>
<p>Aku tengok wajah suamiku, Ia seperti meminta aku segera mengeluarkan sejumlah uang, dari tatap matanya aku tahu kebiasaannya yang tak dapat melihat orang lain dalam keadaan susah, ia inginnnya selalu saja menolong orang lain, padahal ia sendiri dalam keadaan sulit.</p>
<p>Aku bingung, di dompetku pagi hanya ada uang Rp. 100.000.- rupiah saja, itupun sebagian akan aku pergunakan untuk membayar SPP anakku. Sekali lagi aku tatap wajah suamiku, nampak ia memberi issyarat agar aku memberi ½ dari yang aku miliki. Aku diam. Tak terasa tangan ini membuka dompet dan mengeluiarkan selembar Rp. 50.000.-  dan menyerahkan kepada ibu rahma “ Bu … ini uangnya, handuknya ibu bawa pulang saja” kataku lagi” semoga dapat ibu menfaatkan dengan baik,”</p>
<p>“terima kasih ibu, kembaliannya nanti saya anter bu” kata bu rahma lagi.</p>
<p>“ngak usah. Itu semua buat ibu, ini sekalian bisa dibawa pulang nasi gorengnya” sambil aku minta mbok iyem untuk menyiapkan piring.</p>
<p>“Aduh ibu, jadi merepotkan sekali, terima kasih sekali bu, sudah membantu saya, saya mau langsung pulang saja” ujar ibu rahma sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, tangannya nampak kaku ketika aku serahkan piring besar berisi nasi goreng itu kepadanya.</p>
<p>“tidak apa-apa bu, saya senang bisa membantu ibu”. aku mengantarkannya keluar.</p>
<p>Suamiku tersenyum, dan berkata” kamu baru saja mengamalkan kebaikan, yang dengan kebaikan itu memberikan manfaat pada banyak orang, nanti kita makan bubur ayam aja. Dekat sekolah Radhi”</p>
<p>“Mas, kita engak punya uang lagi lho, uang yang tadi aku serahkan sebenarnya untuk anak kita membayar SPP”, ujarnya perlahan. Aku hanya terdiam sesaat, terlebih ketika mobil antar jemput anakku telah tiba. Bunyi klaksonnya mengingatkan agar aku juga segera bersiap-siap berangkat. Seraya berkata “nantilah aku pinjam di kantor” kataku perlahan kepada istriku. Ia masih saja belum mengerti kenapa uang yang tinggal sebanyak itu harus juga dibagi dua. Nanti kita juga bisa seperti mereka makan harus meminjam kesana –kemari, membingunkan tetangga-tetangga saja. Lagian suamiku ini terlalu baik banget. Uang tinggal segitu-gitunya itupun untuk bayar SPP dan transprort masih juga dibagikan ke orang lain.</p>
<p>Aku hanya bisa bilang kepada istriku, bahwa kelaupun kita kesulitan makan tentu tidak seperti keluarga itu kesulitannya, mereka benar-benar tidak ada apa-apa lagi yang bisa dimasak. Sementara kita di kulkas masih ada sayur-mayur dan lauk-pauk yang dapat segera dimasak untuk tiga hari kedapan. Kita belum seberapa sulit jika dibandingkan dengan bagaimana para sahabat lebih rela tidak makan atau berpuasa jika tidak ada lauk dirumahnya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/demasproduction.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/demasproduction.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demasproduction.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demasproduction.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demasproduction.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demasproduction.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demasproduction.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demasproduction.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demasproduction.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demasproduction.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demasproduction.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demasproduction.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demasproduction.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demasproduction.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demasproduction.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demasproduction.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=56&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/menjual-handuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a14b505176ec1c1f2e619a9539ce4e93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">demasproduction</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>M a k a n</title>
		<link>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/m-a-k-a-n/</link>
		<comments>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/m-a-k-a-n/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 17:55:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>demasproduction</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demasproduction.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu, baru saja aku meninjau persiapan teman-teman untuk acara berbuka puasa ramadhan esok hari di Mall Pondok Indah. Aku sendiri segera kembali ke kantor untuk mengambil beberapa cacatan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Puasa Ramadhan kali ini terasa betul berat cobaannya, Sinar matahari panas terik sekali menyinari bumi, Walau sebentar lagi magrib menjelang. Namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=55&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore itu, baru saja aku meninjau persiapan teman-teman untuk acara berbuka puasa ramadhan esok hari di Mall Pondok Indah. Aku sendiri segera kembali ke kantor untuk mengambil beberapa cacatan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Puasa Ramadhan kali ini terasa betul berat cobaannya, Sinar matahari panas terik sekali menyinari bumi, Walau sebentar lagi magrib menjelang. Namun alhamdulilah aku masih bertahan untuk terus berpuasa, walau haus terasa menyengat.<span id="more-55"></span></p>
<p>Selama perjalanan menuju kantor, aku asyik mendengarkan ceramah yang dapat aku dengar dari radio mbilku. Dan ta terasa magrib hampir tiba, hinga aku memutuskan untuk mempir ke restorant cepat saji yang cukup dikenal di kawasan Ponodok Indah.  Selepas memarkirkan kendaraan, aku duduk sendirian menunggu datangnya magrib, sementara itu aku asik mendengarkan ustadz yang ada di telebvisi bicara panjang lebar tentang hikmah puasa.</p>
<p>”Allahu akbar&#8230; Allahu Akbar&#8230;.” suara azan terdengar dari audioland restorant tersebut. akupun menyantap makanan yang memang sudah dari tadi menantangku.  Semua orang yang ada di dalam restoratnt itu ramai sekali, seskali mengambil makan dan minuman bergantian. riuh ramai sekali.</p>
<p>Semua berjalan cepat, aku lihat seseorang yang nampak terburu-buru keluar dari tampat duduknya padahal makanan itu belum seluruhnya habis, rupanya ia harus segera kembali ke mobilnya. Namun Masya Allah&#8230;&#8230;.., tiba-tiba, ada dua anak kecil yang berlarian mendekati makanan itu dan mengambilnya dan langsung dikunyahnya. Makanan sisa tersebut. Dada ini bergetar kencang, aku teriingat ketika kemarin kami baru saja mengahadiri acara berbukapuasa bersama yan dialkukan oleh sebuah perusahaan. Makanan yang disajikan sngat belimpah, semua orang yang berpuasa ketika itu seprti lapar mata, selain lapar perutnya.</p>
<p>Aku lihat anak itu, menhgitung-hitunguang yang ia baru saja dapatkan dari menyemir sepatu, sambil menunjuk-nunjuk daftar harga yang tertera,  sepertinya ia ingin menyataiakan bahwa kurang bila ingin paket A, aku mendengar kita beli sayapnya aja , murah, jangan dada, kurang. Bergegas aku menuju kasir memintakan 2 buah paket A, tampak sekali wajah pelayan restoratnt tersebut tersenyum, Bapak ingin memberikan buat anak itu ya, katanya sambil tersenyum, Tak usah pak, biar manajer perusahaan kami saja yang memberikan, kami sering pula memberikan ini gratis kok kepada meeka, . Tidak jawabku perlahan, saya juga ingin memmeproleh keberkahan pusasa ramadahn saya, ini jga kesempatan buat saya beramal, ini juga ujian buat saya, karena  diantara puouhan orang yang sedang menikmati makanan itu, tak ada satupun yag tergerak membeikan makan berbuka buat mereka. Ini peluang saya untuk meraih kesempatan pahala.</p>
<p>Aku antarkan sendiri makanan itu, kedua anak itu sudah menunggu di luar, sambil sesekali matanya menatap ke dalam etalase restoratny, sambil berharap, kali-kali ada makanan tersisa, :\”ini untk ka,ian berbuka” kataku, Bapak, kami tak mau, ibu kami ajarkan tak boleh menerima pemberian dai orang lain, kami harus bekerja dahulu, ”tak apa apa, ambilah” kataku lagi, Tidak pak , kata mereka hamoir barsamaan, kalaulah boleh biar kami semierkan terlebih dahulu sepetu babak, baru kami ingin menerima pemberian dari Bapak” tak usah sepetau bapak masih bersih, kataku lagi, ambil saja saya ikhlas kok memeberi.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/demasproduction.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/demasproduction.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demasproduction.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demasproduction.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demasproduction.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demasproduction.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demasproduction.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demasproduction.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demasproduction.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demasproduction.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demasproduction.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demasproduction.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demasproduction.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demasproduction.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demasproduction.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demasproduction.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=55&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/m-a-k-a-n/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a14b505176ec1c1f2e619a9539ce4e93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">demasproduction</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiriman tak terduga</title>
		<link>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/kiriman-tak-terduga/</link>
		<comments>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/kiriman-tak-terduga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 17:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>demasproduction</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demasproduction.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini, aku berprinsip, jika aku dalam kelapangan kondisi keuangan, lebih baik uang itu aku tabung atau aku pinjamkan saja kepada orang yang membutuhkan. Menurutku itu adalah tabungan energi positif yang dapat aku berikan. Pertama mudah-mudahan Allah memberikan aku pahala atas perbuatan itu dan yang pasti saya bahagia telah membuat orang yang menerima bantuan dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=54&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama ini, aku berprinsip, jika aku dalam kelapangan kondisi keuangan, lebih baik uang itu aku tabung atau aku pinjamkan saja kepada orang yang membutuhkan. Menurutku itu adalah tabungan energi positif yang dapat aku berikan. Pertama mudah-mudahan Allah memberikan aku pahala atas perbuatan itu dan yang pasti saya bahagia telah membuat orang yang menerima bantuan dapat tersenyum bahagia. Saya seperti dirasakan manfaat kehadirannya. Tapi ada daya bila suatu saat aku butuh uang, tapi tak satupun orang yang mengembalikan pinjaman sesuai dengan yang dijanjikan ? akhirnya aku begitu panik dan tak berdaya. Aku hanya bisa berserah diri kepada-Nya. Allahu Akbar.<span id="more-54"></span></p>
<p>Sore itu menjelang aku pulang dari kantor, aku dikagetkan istriku yang mengabarkan kalau ibu mertuaku sakit, aku harus segera kerumah sakit disekitar permata hijau. Akupun segera memaju kendaraanku ke rumah sakit tersebut. Setiba dirumah sakit aku lihat bapak mertuaku bolak-balik diruang ICU, sementara istriku menunggu di ruang operasi.</p>
<p>“mas kita harus siapkan uang&#8230; “ kata istriku perlahan.<br />
“iyalah nanti&#8230;. biar aku cari” kataku lagi, yang penting ibu biar sehat dulu.</p>
<p>Malam itu, aku shalat tahajud mengadukan kepada Allah. “ Ya Allah, pemilik alam semsta ini, Engkau pemilik langit dan bumi, mudah bagimu memberikan harta dan mudah pula bagimu untuk memberikan keselamatan bagi setap orang yang Engaku mau, ampunilah aku Ya Rabb atas segela kesalahanku, Berilah kesembuhan bagi ibuku atau berilah harta yang engkau miliki agar aku bisa membayar rumah sakit ini, Ya Allah kabulkanlah permohonanku” pintaku meratap.</p>
<p>Pagi itu, aku tak tahu harus gimana, yang jelas aku akan kentantir dulu, minimal akan pinjam dari kantor, Namun tiba-tiba handphone ku berdering, ada SMS yang masuk dari temanku “ Boss aku mau transfer nih, aku baru aja dapat order besar nih, nomoer rekeningnya belum ganti khan, makasih ya” begitu pessan singkat yang masuk. Ringkas namun snagat membahagiakan aku. Allahu Akbar. Benar saja, begitu aku cek di ATM, ada sejumlah uang uang semalam diminta oleh istriku. Allah membuktikan janjinya. Dia telah memberikan aku janji atas tabungan energi positif yang selama ini lakukan. Aku semakin yakin.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/demasproduction.wordpress.com/54/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/demasproduction.wordpress.com/54/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demasproduction.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demasproduction.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demasproduction.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demasproduction.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demasproduction.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demasproduction.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demasproduction.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demasproduction.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demasproduction.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demasproduction.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demasproduction.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demasproduction.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demasproduction.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demasproduction.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=54&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/kiriman-tak-terduga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a14b505176ec1c1f2e619a9539ce4e93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">demasproduction</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesedihan Ayu</title>
		<link>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/kesedihan-ayu/</link>
		<comments>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/kesedihan-ayu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 17:51:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>demasproduction</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demasproduction.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu jam belajar dimulai dengan olah raga , teman –teman Ayu terlihat senang , hari ini Pak Yoga guru olah raga mengajak kami sekelas lomba kasti. Tapi perasaan senang itu tak dapat dinikmati Ayu ,sedih saja hari ini yang Ayu rasakan. Tadi pagi Ayu kecewa pada ayahnya , ia tak mendapatkan uang saku yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=53&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi itu  jam belajar dimulai dengan olah raga , teman –teman   Ayu terlihat senang , hari ini Pak Yoga guru  olah raga mengajak kami sekelas lomba kasti. Tapi  perasaan senang itu tak dapat dinikmati Ayu ,sedih  saja hari ini  yang  Ayu rasakan. Tadi pagi Ayu  kecewa pada ayahnya , ia tak mendapatkan  uang  saku  yang  diminta sebesar Rp20.000,- ayahnya hanya bilang “Terlalu besar uang sebesar itu untuk anak SD seusiamu”!.<br />
Ayah hanya memberi Ayu Rp3000,- .Hati Ayu mengatakan , “ Ini kan hanya cukup beli permen…”!.<span id="more-53"></span></p>
<p>Ayu  benar-benar tak ingin tersenyum pada semua orang hari ini.<br />
Ayahnya  tak pernah dapat memahami kebutuhannya, tidak seperti ibunya.  Ayu coba mengingat kejadian  beberapa tahun lalu, mengingat kenangan bersama sang ibu. Beliau telah  berpulang  tiga tahun lalu. Lebih buruk lagi satu tahun sebelum kecelakaan ayah dan ibunya bertengkar setiap hari,  entah  apa yang menjadi penyebabnya  Ayu sungguh tak mengerti. Malam itu ibu Ayu  belum pulang hingga waktu sudah larut malam. Saat ayah menelpon ibunya,  ia sedang  dijalan satu mobil bersama Om Rudi yang  Ayu tahu ia adalah teman kerja ibunya di kantor. Pagi hari menjelang subuh terdengarlah berita mengejutkan , sang bunda meninggal dalam kecelakaan di jalan tol. Sementara Om Rudi luka parah.</p>
<p>Dimata  sang ayah, ibu Ayu adalah wanita buruk ,  sibuk berkarir, tak pandai mengurus keluarga. Tetapi tak dirasakan hal itu pada  Ayu.  Dihadapan  Ayu ibu  sangat baik,  tak pernah Ayu dapatkan uang saku  dibawah Rp10.000,- Saat ini  Ayu memiliki  ibu baru yang artinya  punya ibu tiri,  Ayu  memanggilnya mama. Mama baru  Ayu sebelumnya adalah teman kerja ayah, ayah pernah bilang ia staf bagian keuangan . Ayu masih merasakan kehadiran  sang bunda  sementara  ia  belum bisa merasakan kasih sayang dari mama barunya, walaupun  mama barunya  bersikap baik pada  dirinya  dan adiknya.<br />
Yang tak  dimengerti  Ayu mengapa  orang tuanya  lebih  akrab dengan teman-temannya. Sebelum ibu  meninggalkan Ayu dan adiknya,  sering  terdengar  Om Rudi  menelpon ibu .  Sering terlihat pula Om Rudi mengantar ibunya pulang kerja Begitupun ayahnya, saat ia bersantai di rumah selalu saja  handphonenya berdering  lalu terdengar suara wanita  dengan mesranya  berbicara dengan ayah, ayah terlihat gugup menjawabnya,   Ayu mendengar dan  memperhatikan, ayah hanya menjawab ya…ya… dan… ya….terus. Setelah  ibu  tahu , merekapun  ribut lagi. Ayu tentu tak    dapat memahami  semua ini.  Inikah  cara  mereka berkeluarga ? Ayu tak sanggup  dan belum mampu memikirkannya. “ Tak pentingkah arti kehadiranku dan adikku  didunia ini “?, pikir Ayu.   Mereka   lebih asyik dengan dunia orang tua.</p>
<p>Saat Ayu melamun.Pak Yoga memanggil turun kelapangan. Sungguh    Ayu  tak tertarik untuk ikut turun. Ayu katakan pada gurunya “ Pak saya pusing”, Pak Yoga  mengiyakan sambil berkata “Ya istirahat saja kamu dikelas”.</p>
<p>Tak terasa  setengah jam sudah Ayu  di  kelas,  sebuah tas warna biru menyita perhatiannya .”Bukankah tas ini milik Haris ?,hati  Ayu  bertanya.  “Ya benar sekali teman terkaya dikelasku… ah…tergoda aku  untuk melihat isi dompetnya”.<br />
Yang terjadi tak lama  kemudian dompet Haris telah berpindah di kantong rok Ayu. Cepat-cepat  Ayu berlari ke toilet samping kelas. “Wow…lembar lima puluh ribuan”!.</p>
<p>Bel berbunyi saat  jam istirahat mulai, terlihat Nabil, Adit, Bintang dan Haris maju ke depan menghampiri Bu Dina  ibu guru. Mereka serempak  berkata ,  ”Bu…dompet  Haris  hilang !!!”<br />
Deg….deg…..deg ….jantung  Ayu berdegup kencang segera  ia  berlari keluar menuju kantin sekolah, dengan tak memperdulikan  pengaduan teman-temannya kepada Bu Dina.   “Tak akan kusia-siakan uang ini”,  hati Ayu berbisik, dibelinya sebuah es krim dan semangkuk bakso dikantin . Kenyang sekali…….. rasanya,  kesedihan Ayu dan kekecewaan pada ayahnya hilang seketika.<br />
Bel masuk kelas berbunyi.     Bu Dina memulai  pelajaran dengan wajah muram tak seperti biasanya. “Anak-anak  baru  saja temanmu Haris kehilangan uang beserta dompetnya”, sapa pertama Bu Dina.<br />
“Ibu guru lebih senang dengan anak bodoh tapi jujur dari pada anak pintar tapi  suka mengambil hak orang lain alias mencuri’, seru Bu Dina berikutnya. Satu kelas  terdiam tak berani bicara . Terlihat  nada marah dari bu guru . “Ibu  sudah mendapat laporan  siapa pencuri di kelas ini ,” lanjut Bu Dina .Perasaan  takut, bingung, cemas bercampur jadi satu  saat  itu dirasakan Ayu.<br />
Pulang sekolah Bu Dina menyentuh bahu Ayu seraya berkata “ Ayu  ibu guru  ingin  bicara ikut ibu ya ke kantor guru “.     Ayu tersentak      “Ada apa bu”, tanya Ayu seolah tak tahu maksud Bu Dina.    Dengan terpaksa     Ayu memenuhi panggilan Bu Dina.  Bu Dina  memeluk pundak  Ayu  menggiringnya  menuju kantor guru.  Setelah panjang lebar Bu Dina berceramah  tak terasa air mata Ayu menetes.  “Ini uangnya bu aku tidak mencuri “, Ayu   membalas  setengah  mengakui, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.             “Tetapi perbuatanmu dibenci Allah nak”, sela Bu Dina.<br />
“Bertaubatlah  minta ampun lah kamu pada Allah”, pinta Bu Dina.</p>
<p>Ayu mengangguk   perlahan   sambil menangis  penyesalan mulai dirasakannya. Di balik pintu luar kantor guru, terdengar suara teman-temannya  berbisik-bisik sambil mengejek “ Eh yang mencuri dompet Haris si Ayu “.  “ Ih  Ayu  pencuri “.   “Kasihan deh Haris “.  komentar banyak temen-teman Ayu diluar.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/demasproduction.wordpress.com/53/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/demasproduction.wordpress.com/53/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demasproduction.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demasproduction.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demasproduction.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demasproduction.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demasproduction.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demasproduction.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demasproduction.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demasproduction.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demasproduction.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demasproduction.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demasproduction.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demasproduction.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demasproduction.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demasproduction.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=53&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/kesedihan-ayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a14b505176ec1c1f2e619a9539ce4e93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">demasproduction</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalkulator</title>
		<link>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/kalkulator/</link>
		<comments>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/kalkulator/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 17:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>demasproduction</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demasproduction.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin, aku mendengar Rika, anak tetangga dibelakang rumah merengek minta dibelikan kalkulator pada mamaknya. Ia yang sekolah pada jurusan IPA sangat memerlukan kalkulator itu untuk melengkapi keperluan sekolah katanya. Sejak duduk di bangku kelas 1 SMU negeri belum pernah ia memiliki barang tersebut. Ia malu karena karena selalu meminjam ke teman-temannya untuk mengerjakan pekerjaan rumah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=52&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin, aku mendengar Rika, anak tetangga dibelakang rumah merengek minta dibelikan kalkulator pada mamaknya. Ia yang sekolah pada jurusan IPA sangat memerlukan kalkulator itu untuk melengkapi keperluan sekolah katanya. Sejak duduk di bangku kelas 1 SMU negeri belum pernah ia memiliki barang  tersebut. Ia malu karena karena selalu meminjam ke teman-temannya untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau tugas-tugas lainnya.<span id="more-52"></span></p>
<p>Bagi banyak orang, kalkulator bukanlah barang mahal, namun bagi mamaknya yang bekerja sebagai pedagang  es mambo di sebuah kantin sekolah dasar, kalkulator adalah barang mewah sehingga penghasilannya diigunakan untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Tanpa kalkulatorpun mereka sudah seringkali menghitung-hitung penghasilannya yang tak seberapa itu untuk dibagi-bagi memenuhi kebutuhan utamanya.</p>
<p>Pagi ini, selepas subuh lagi lagi aku mendengar permohonan itu dismapaikan lagi, sembari membuat  es, Rika yang sudah sangat hati-hati menyampaikan keinginannya untuk dibelikan kalkulator.</p>
<p>”Ibu, kapan aku dapatkan uangnya, saya ingin segera bisa beli kalkulatir, teman aku ada yang mau jual kalkulatir bekas pun ngak apa apa”</p>
<p>“ Buat makan aja susah Ka apalagi buat beli kalkulator “. Jawab ibunya tegas sekali. Rika akhirnya hanya bisa mengubur dalam-dalam keinginannya itu. Air mata bening menetes dibalik pelupuk matanya. Ia tentu tak ingin memberatkan mamak dan bapaknya. Ia tahu betul sulitnya mamak dan bapak berjualan es. Dibayangkan  uang Rp. 25.000,- terasa sangat berat bagi mamaknya. Ia harus menabung untuk mendapatkan kalkulator itu, bahkan untuk kalkulator bekas sekalipun, tapi bagaimana cara menabung bila uang dari mamak dan bapak hanya cukup untuk naik angkot.</p>
<p>Aku yang kebetulan mendengar percakapan mereka berjanji dalam hati akan  memberikan kalkulator yang aku miliki. Kebetulan keinginanku untuk mengganti kalkulator yang baru, sementara yang lama kuniatkan akan keberikan pada Rika. Sebenarnya ada bisikan untuk segera saja diberikan kalkulator itu apalagi siang ini tidak ada kegiatan yang mengharuskan aku menggunakan kalkulator namun akupun mendengar bisikan lain agar nanti sajalah kalkulatornya diberikan, kali-kali aja di kantor nanti ada pekerjaan yang membutuhkan alat hitung itu, sampai akhirnya kesibukan menyelesaikan pekerjaan hari itu membuat aku lupa untuk memberikan kalkulator itu. Kalkulator  masih terlihat tergeletak di atas meja  kamar.</p>
<p>Sementara aku sibuk menyelesaikan pekerjaan kantor di meja kerjaku di rumah, tiba-tiba si bungsu putriku meraih kalkulator yang ada di atas meja .<br />
“ Bu aku pinjam ya” pintanya<br />
“Ya sayang “, kujawab agar ia tak menggangguku.  Tut  … tut  …. Terdengar anakku asyik memainkannya  lalu ia bertanya “ Bu…ini kok susah”, tak tahu aku apa maksudnya kujawab saja<br />
“Ibu  sibuk nak “ jawabku sekenanya.<br />
Tiba-tiba prang…..! kalkulator pecah berserakan dilempar, si bungsuku rupanya marah karena aku tak menggubrisnya saat ia butuh bantuanku. Tombol angka pada kalkulator bertaburan di lantai. Kalkulatorku pecah berantakan, Aku kumpulkan satu persatu, dengan harapan masih bisa aku perbaiki, aku masih berharap bisa aku betulkan. Aku tank ingin kalkulatr ini benar-benar rusak. Tapi melihat bentuknya aku yakin betul bahwa kalkulatir itu tak lagi dapat dipergunakan. Aku tertegun dan berkata dalam hati “ Ah… seandainya aku berikan sejak tadi pada Rika mungkin kalkulator ini tak pecah “, penyesalan yang dalam  menyelimuti perasaanku. Rupanya Allah menegurku karena selalu menunda kebaikan. Kalkulator pecah karena perbuatannku menunda kebaikan dan tak menggubris keluhan anakku. Sesal kemudian tak berguna. Sungguh kejadian ini akan aku jadikan  pelajaran  berharga.</p>
<p>Kalkulator seharusnya membantu aku menghitung, tidak hanya atas angka-angka raport siswa-siswi didikku, tapi juga mengitung-hitung seberapa banyak amal kebaikan yang telah aku lakukan pada hari ini atau selama hidupku selama ini atau juga dapat menghitung hitung keburukan apa saja yang telah aku perbuat sehingga seringkali amal kebaikan itu dilakukan selalu terlambat atau kesempatan untuk beramal itu akan hilang selamanya. Kesempatan memang jadi pilihan kita, akan memberikan bantuan segera atau menunda. Kalkulatorku toh tetap hilang dari tanganku, namun tak memiliki nilai karena keterlambatan aku memberi, seandainya tadi padi aku segera memberikan kalkulatorku tentu rika sudah tak lagi bingung menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, tentu ibunya tak lagi bingung mencarikan dana untuk membeli. Dan selalu saja aku swring menunda amal. Sesuatu yang sebenanrya sangat berlawanan dengan hatiki.</p>
<p>Selalu saja penyelsala itu datang di akhir. Seandainya aku langsung memberikan kalkulator itu tentu Allah akan catatakan itu sebagai sebuah amal, belum lagi bila kalkulator itu terus digunakan dan dimanfaatkan oleh sampai ia selesai sekolah&#8230;.. Ya Allah ampuni aku atas lambatnya hati ini tergerak membantu, YA Allah berilah aku kekuatan untuk menyegerakan berbuat baik, jangan engkau tunda-tunda hati ini, untuk memilih yang terbaik bagi driku sendiri. Ya Allah Maafkan aku&#8230;. Ampuni Aku YA Allah.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/demasproduction.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/demasproduction.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demasproduction.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demasproduction.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demasproduction.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demasproduction.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demasproduction.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demasproduction.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demasproduction.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demasproduction.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demasproduction.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demasproduction.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demasproduction.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demasproduction.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demasproduction.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demasproduction.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=52&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/kalkulator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a14b505176ec1c1f2e619a9539ce4e93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">demasproduction</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan matikan telpon</title>
		<link>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/jangan-matikan-telpon/</link>
		<comments>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/jangan-matikan-telpon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 17:45:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>demasproduction</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://demasproduction.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Suara takbir itu sahut menyahut, malam itu terasa sekali keberkahan malam akbar bagi seluruh ummat Islam di seluruh dunia. Langit yang hitam terlihat terang benderang oleh ribuan bintang. mengetarkan hati ini, saya baru saja tiba di rumah setelah dari kantor, selepas koordinasi dengan teman-teman konter Ramadhan. Malam itu jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Setelah mandi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=51&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suara takbir itu sahut menyahut, malam itu terasa sekali keberkahan malam akbar bagi seluruh ummat Islam di seluruh dunia. Langit yang hitam terlihat terang benderang oleh ribuan bintang. mengetarkan hati ini, saya baru saja tiba di rumah setelah dari kantor, selepas koordinasi dengan teman-teman konter Ramadhan. Malam itu jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Setelah mandi sebentar saya menyaksikan dulu acara Televisi. Tiba-tiba “bunyi shalawat” dari nada dering handphone saya berbunyi.<span id="more-51"></span><!--more--></p>
<p>“Assalamu’alaikum” kataku perlahan. “ ada yang bisa saya bantu”<br />
“Mas….. saya minta dijemput dana zakat saya”<br />
“Mohon Maaf, pak, dengan siapa ini saya bicara “<br />
“Saya pak Banu mas”<br />
“Oh maaf pak Banu, Pak Banu yang di bekasi”<br />
“ Iya mas, saya minta dijemput zakat saya, tapi kalau bisa malam ini, sebelum jam 12 malam, soalnya saya jam 2 pagi akan berangkat pulang kampung di Yogya”<br />
“Oh iya mas, saya akan jemput, tapi yang jemput nanti mas Odie, bagian penjemputan, insya Allah bapak juga sudah kenal”<br />
“Iya…. Ya, saya kenal, saya tunggu ya mas, Assalamula’alaikum” katanya seraya menutup telpon.</p>
<p>Takut kehilangan waktu, langsung saya mengubungi Odie, bagian yang bertanggungjawab atas penjemputan. Saya kabari permintaan dari pak Banu untuk dijemput dana zakatnya. Untungnya Handphone Odie masih aktif, dia yang baru saja menikah beberapa hari menjelang Ramadhan.<br />
“Mas saya sudah dirumah nih, memangnya ngak bisa dijemput besok selepas lebaran aja mas” katanya meminta ijin untuk menunda.<br />
“Pak Banu mintanya dijemput malam ini juga, karena besok ia akan berlibur bersama keluarga ke kampung halaman, dan sudahlah….. dia kan donatur kita, bukankah tugas kita memberikan layanan terbaik buat para donatur, kamu ajak saja istrimu dan panggilkan taksi agar bisa lebih cepat sampai” kataku menyakinkan dia agar bisa berangkat.<br />
“Mas…Pak Banu khan tadi siang sudah saya ambil zakatnya, sebesar Rp. 40 juta” kata Odie menyakinkan lagi, apakah benar harus ambil zakat lagi di orang yang sama.<br />
“Iya barusan, saya dihubungi pak Banu, katanya kita diminta ambil zakat lagi sebelum jam 12 malam ini”<br />
“Okelah kakau begitu, tapi saya minta ijin untuk ajak istri saya nih, kebetulan dia mau saya ajak, sekalian bulan madu di taksi” katanya sambil bercanda.</p>
<p>Dengan mengunakan taksi akhirnya Odie berangkat menuju Bekasi, seolah memburu waktu, ia meminta supir taksi agar lebih cepat namun tetap dalam kendali. Tepat pukul 12 lewat 5 menit ia tiba di rumah pak banu. Pak banu sudah menunggu di depan pintu gerbang rumahnya. Terlihat kedua anaknya sedang merapikan barang-barangnya di dalam mobilnya.</p>
<p>“Mari masuk” katanya sambil menjabat tangan odie.<br />
“Di teras saja pak, saya dengan istri saya, tapi ia di taksi menunggu”<br />
“Oh…. Iya, kenapa ngak disuruh masuk saja, saya sudah siapkan ketupat sayur masakan istri saya nih, untukl mas odi, ayo ajak istrinya masuk”<br />
“Ngak apa-apa pak, ,dia malu”<br />
“Ayo ajak amsuk, manegapa malu” Odiepun akhirnya mengajak istrinya masuk menemani ngobrol.<br />
“maaf pak Banu, saya tadi siang saya sudah mengambil uang zakat Bapak, bahkan bapak, sendiri yang menyerahkan dananya, lalu mengapa kami harus mengambil zakat lagi pak?”<br />
“Ayo kita sambil makan, bicaranya…, sebentar lagi saya akan berangkat nih.. sebelumnya perut harus kenyang, biar fit dalam perjalanan” ajaknya</p>
<p>“Maaf pak, bapak belum menjawab pertanyaan saya tadi” Tanya odie lagi.<br />
“Iya saya terima kasih Dompe Dhuafa sudah menerima dana zakat saya dan mudah-mudahan zakat saya dapat bermanfaat ya”</p>
<p>“Iya pak, insay Allah akan kami berdayakan melalui progrtam-program yang kami buat” katanya menyakinkan.<br />
“Tadi pagi saya telpon, ke tiga lembaga zakat, untuk mengambil zakat di rumah saya, saya tunggu sampai jam 10 malam ini, hanya 2 lembaga yang datang, dan hanya Dompet Dhuafa yang dating tepat waktu, saya kecewa betul dengan kinerja lembaga ummat ini mas, saya sudah konfirmasi ulang, katanya mau diambil sebentar lagi, tapi sampai jam 11 malam tadi tak juga kunjung dating, ya sudah akhirnya saya menghubungi mas yuli, untung saya simpan kartu namanya”</p>
<p>“terima ksih bapak, atas kepercayaannya, ini ketupatnya enak sekali pak” katanya sambil mengembil ketupat itu.</p>
<p>“Oh iya silahkan,,,, jadi lupa tawarkan, ini uang yang seharusnya saya serahkan ke lembaga amil zakat yang tak jadi dating, jumlahnya 30 juta rupiah, mohon diterima oleh Dompet Dhuafa dan agar dimanfaatkan untuk orang-orang dhuafa” katanya lagi.</p>
<p>Saya terkejut, pagi tadi orang yang sama memberikan uang zakatnya, dan malam ini ia memebrikan lagi hampir sebesar yang ia berikan tadi siang. Saya tentu bersyukur pada Allah, bahwa saya dibei tempat menjadi perantara muzakki membayarkan dan mempercayakan zakatnya kepada lembaga tempat saya bekerja, Saya tak pernah bayangkan bila telpon saya mati atau telpon odie mati, tentu peluang itu hilang dan tentu keempatan dompety dhuafa membuat program yang baik menjadi hilang pula. Karena mameng dari uang para muzakki itulah yang kami himpun sedikit demi sedikit untuk memulihkan kpercayaan ummat, memberdayakan.</p>
<p>Sejak itu, saya melarang teman-teman di penghimpunan, mematikan handphonenya, kecuali bila mereka sedang cuti. Kapanpun dan dimanpun amil-amil dompet dhuafa, seharusnya bisa dighubungi, untuk berbagai keperluan. Bisa jadi ada mustahik yang membutuhkan pertolongan  atau ada muzkki yng ingin membayarkan zakat atau mennaykaan nomor rekening karn a ia ingin manttarasfer sejumlah dana.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/demasproduction.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/demasproduction.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/demasproduction.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/demasproduction.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/demasproduction.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/demasproduction.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/demasproduction.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/demasproduction.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/demasproduction.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/demasproduction.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/demasproduction.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/demasproduction.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/demasproduction.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/demasproduction.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/demasproduction.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/demasproduction.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=demasproduction.wordpress.com&amp;blog=3657244&amp;post=51&amp;subd=demasproduction&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://demasproduction.wordpress.com/2008/05/31/jangan-matikan-telpon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a14b505176ec1c1f2e619a9539ce4e93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">demasproduction</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
